Jakarta, CNBC Indonesia - Dugaan praktik manipulasi nilai ekspor crude palm oil (CPO) menjadi sorotan setelah muncul perbedaan signifikan antara info ekspor Indonesia dan nilai impor di negara tujuan. Temuan itu memunculkan pertanyaan soal potensi kebocoran penerimaan negara dari sektor sawit.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung, menilai indikasi tersebut bukan persoalan baru dalam perdagangan sawit Indonesia.
"Kalau lihat info itu berfaedah udah lama," kata Tungkot kepada CNBC Indonesia, Kamis (21/5/2026).
Sorotan terhadap praktik ekspor sawit mencuat setelah sejumlah studi menemukan adanya selisih nilai cukup lebar antara nilai ekspor Indonesia dan nilai jual kembali di negara perantara, terutama Singapura.
Dalam studi NEXT Indonesia, nilai impor produk sawit olahan dari Indonesia ke Singapura tercatat berada di kisaran US$600-1.300 per ton. Namun, produk nan sama diekspor kembali Singapura ke pasar dunia dengan nilai mencapai US$1.000-1.900 per ton.
Selisih nilai itu apalagi sempat mencapai US$634 per ton pada 2022. Sementara untuk minyak sawit mentah alias CPO, gap nilai pada periode 2015-2019 disebut berada di kisaran US$294 hingga US$797 per ton.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya praktik transfer pricing maupun under invoicing nan berpotensi menekan penerimaan negara dari pajak dan pungutan ekspor. Tungkot memandang persoalan itu tidak lepas dari adanya celah dalam sistem pengawasan ekspor nasional.
"Kenapa terjadi? Ya ada eksportir nakal, tapi juga kelemahan abdi negara bea cukai kita. Ini juga disoroti Presiden dalam pidato kemarin," ujarnya.
Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mengantongi nama-nama 10 perusahaan sawit nan melakkan manipulasi tagihan perdagangan namalain under invoicing. Perusahaan-perusahaan itu disebutnya berskala besar.
Salah satu perusahaan itu, tuturnya, mencatatkan nilai ekspor US$2,6 juta, sementara nilai nan dibayarkan pengimpor di AS US$4,2 juta.
"Jadi 57% bedanya," katanya.
"Ada nan lebih gila lagi. Satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$1,44 juta di sana (impor) US$4 jutaan. Berubah harganya 200%. Kita mau penemuan kapal per kapal. Jadi itu nan saya laporkan jika ditanya," ucap Purbaya.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·