Industri otomotif tanah air tengah bersiap menghadapi pengetatan izin mengenai penggunaan komponen dalam negeri untuk kendaraan listrik.
Pemerintah menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60 persen untuk mobil listrik roda empat, nan dijadwalkan bertindak pada periode 2027–2029 sesuai Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 — naik dari sasaran sebelumnya di nomor 40 persen.
Menanggapi arah kebijakan tersebut, PT Honda Prospect Motor (HPM) menyatakan kesiapannya untuk terus mendukung serta menyelaraskan operasional manufakturnya dengan izin nan bakal diberlakukan oleh regulator, termasuk untuk lini kendaraan elektrifikasi mereka ke depan.
Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM, Yusak Billy, mengonfirmasi bahwa pihaknya memantau secara jeli perkembangan obrolan kebijakan TKDN nan saat ini tetap terus dibahas oleh pemerintah.
"Tapi kan itu tetap dalam tahap pembahasan ya, kita monitor terus kali ya perkembangannya," tutur Billy.
Billy menegaskan bahwa pedoman manufaktur Honda di Indonesia sebenarnya telah mempunyai fondasi lokalisasi nan sangat kuat, terlepas dari patokan TKDN 60% untuk EV nan tetap dalam tahap pembahasan tersebut. Langkah pendalaman rantai pasok lokal ini telah dilakukan secara konsisten pada lini kendaraan konvensional (ICE) HPM, jauh sebelum wacana pengetatan TKDN EV mengemuka.
"Kita bakal ikuti terus ya patokan pemerintah seperti apa, kita bakal mengikuti agar selaras dengan apa nan dianjurkan oleh pemerintah. Supaya mobil kita juga mempunyai daya saing nan baik dibandingkan dengan kendaraan lainnya," kata Billy.
Sebagai gambaran capaian lokalisasi HPM saat ini — di luar konteks patokan TKDN EV 60% nan tetap dibahas — berasas info internal HPM, rata-rata local purchase alias pembelian komponen lokal untuk model kendaraan nan dirakit secara Complete Knock Down (CKD) di pabrik Honda saat ini sudah melampaui nomor 70%.
Bahkan, salah satu model jagoan mereka, Honda Brio, dicatat sebagai salah satu mobil dengan tingkat kandungan lokal tertinggi di pasar otomotif nasional saat ini, menempati posisi spesial dalam struktur produksi HPM.
"Kalau local purchase itu jika Brio sudah mobil paling nasionalis ya, sudah 95%. nan lainnya di atas 70%," jelas Billy.
Tingginya nomor kandungan lokal pada Brio — nan notabene merupakan kendaraan berbasis mesin konvensional, bukan EV — tidak hanya mencerminkan komitmen investasi Honda di Indonesia, tetapi juga membuktikan kelebihan daya saing industri manufaktur otomotif lokal nan menjadi mitra rantai pasok HPM.
Langkah pendalaman lokalisasi komponen terbukti efektif menjadi tembok pertahanan bagi perusahaan dalam menghadapi akibat perubahan nilai tukar mata duit asing nan kerap membengkakkan biaya produksi.
"Di mana ada kesempatan untuk melokalisasikan, itu pasti kita ambil kesempatan itu. Karena untuk mengurangi pengaruh dari mata duit asing nan naik terus," papar Billy.
"Untuk meminimalisasikannya dengan langkah memperbanyak local content. Karena di dalamnya kan ada banyak Rupiah nan digunakan dibandingkan dengan mata duit asing," pungkas Billy.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·