Lestari Moerdijat: Indonesia Bangsa yang tidak Terpisah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Indonesia Bangsa nan tidak Terpisah Ilustrasi(Dok Istimewa)

INDONESIA adalah satu bangsa nan tidak terpisah. Ancaman terhadap kebangsaan sesungguhnya adalah ketika perbedaan dipertentangkan dan sejarah kebersamaan dilupakan. 

"Indonesia berdiri bukan lantaran semua orang sama, melainkan lantaran kita memilih berbagi 'rumah' nan sama. Rumah itu dibangun dari ribuan perjumpaan, ratusan budaya, dan beragam etnis nan saling memperkaya," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam aktivitas Kongkow Kebangsaan: Tionghoa dalam Kebangsaan dan Kebudayaan Indonesia nan digelar oleh Persaudaraan Peranakan Tionghoa Warga Indonesia (PERTIWI) di White House de Noyas, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (26/6) sore. 

Hadir pada aktivitas itu antara lain, Udaya Halim (Ketua Persaudaraan Peranakan Tionghoa Warga Indonesia /PERTIWI), Suryana Erawan (Ketua Kelenteng  Hok Tek Bio), Hartono (Ketua Yayasan Eka Pralaya), Aan Rohaeni SH (advokat dan pemerhati kebijakan publik), Shanti  K Nugroho SH, MH (Sekretaris Yayasan Puhua), Dr. drs. Hananto SH, MH (Ketua Alumni Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman), serta sejumlah tokoh masyarakat Banyumas. 

Menurut Lestari, Indonesia adalah satu bangsa nan tidak terpisah, terlepas dari adanya beragam suku alias agama.

Konstitusi, ujar Rerie, sapaan berkawan Lestari, menjamin perlindungan bagi seluruh penduduk negara, tanpa terkecuali.

Menurut Rerie, nilai-nilai kebangsaan nan terkandung dalam empat konsensus kebangsaan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan tembok untuk melindungi dan merawat persatuan nan ada. 

Rerie beranggapan bahwa politisasi identitas dan stereotip negatif terhadap etnis Tionghoa, kudu dilawan. 

Karena, tambah Rerie, rumor perpecahan dan sentimen anti-Tionghoa merupakan hasil bangunan politik devide et impera, bukan bentrok nan organik. 

Rerie nan juga Anggota Komisi X DPR RI itu menegaskan bahwa kekuatan Indonesia selalu lahir dari kemampuannya mengubah keberagaman menjadi persaudaraan. 

"Itulah makna sejati Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan tumbuh, berkarya, dan membangun masa depan berbareng sebagai satu bangsa, Indonesia," ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu. 

Pada kesempatan nan sama, sejarawan nan juga Ketua Persaudaraan PERTIWI, Udaya Halim mengungkapkan bahwa nama Indonesia itu diciptakan oleh intelektual asing, ialah James Richardson Logan dan George Windsor Earl di abad ke-19 pada jurnal nan mereka tulis. 

Menurut Udaya, organisasi Tionghoa juga berkedudukan krusial dalam perjalanan sejarah Indonesia, antara lain dengan digunakannya gedung milik Sie Kong Liong nan kemudian dikenal sebagai gedung Sumpah Pemuda, tempat Kongres Pemuda II pada 1928.

Selain itu, juga ada Yo Kim Tjan, perekam lagu Indonesia Raya untuk disebarluaskan pada masa awal  kemerdekaan. 

Menurut Udaya, kebangsaan itu merupakan rasa kepemilikan (sense of ownership) nan tumbuh dalam diri setiap orang. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia