ilustrasi(Magnific)
KEPUTUSAN untuk mengubah pola hidup kucing piaraan menjadi full indoor alias sepenuhnya di dalam rumah sering kali dibayangi rasa cemas. Banyak pemilik membayangkan anabul mereka bakal stres, depresi, hingga terus-menerus merusak pintu demi bisa kembali berkeliaran di luar. Namun, hasil riset terbaru justru menunjukkan realitas nan jauh lebih menenangkan.
Penelitian dari School of Animal and Veterinary Sciences di Adelaide University, Australia, mengungkapkan proses transisi kucing menjadi hewan rumahan rupanya melangkah lebih mudah dari nan diperkirakan sebagian besar pemiliknya.
Riset nan dipimpin Dr Julia Henning dan diterbitkan dalam jurnal Applied Animal Behaviour Science ini melibatkan 87 pemilik kucing di Selandia Baru. Sebanyak lebih dari dua pertiga responden mengaku bahwa perubahan style hidup piaraan mereka berjalan mulus tanpa halangan besar. Bahkan, tiga perempat dari mereka berkomitmen untuk tetap memelihara kucing secara indoor di masa depan.
Alasan utama di kembali keputusan ini adalah aspek keselamatan. Sebanyak 77% pemilik memilih mengandangkan kucingnya demi menghindari ancaman lampau lintas, serangan hewan lain, penyebaran penyakit, hingga ancaman racun. Sebagian lainnya terdorong oleh kemauan melindungi satwa liar lokal seperti burung, alias lantaran aspek pindah rumah dan kekhawatiran terhadap lingkungan tetangga.
"Banyak orang cemas bahwa mengurung kucing di dalam rumah bakal memicu stres pada hewan tersebut. Namun, temuan kami menunjukkan bahwa transisi ini sering kali jauh lebih mudah daripada nan dibayangkan," ujar Dr. Henning.
Faktor usia memegang peranan krusial dalam kecepatan adaptasi. Sekitar 40 persen kucing bisa menyesuaikan diri hanya dalam waktu satu hingga dua hari. Kucing nan dipindahkan ke dalam rumah sebelum berumur dua tahun mempunyai tingkat keberhasilan penyesuaian nan jauh lebih tinggi, mencapai 75%, dibandingkan kucing nan lebih tua.
Meskipun terdapat sekitar 13% kucing nan belum sepenuhnya terbiasa, perihal ini umumnya terjadi lantaran mereka tetap dibiarkan berkeliaran di luar rumah tanpa pengawasan. Menariknya, kepuasan dan kebahagiaan kucing terbukti meningkat seiring berjalannya waktu. Bagi kucing nan telah hidup indoor lebih dari dua tahun, tingkat kebahagiaannya dicatat oleh pemilik mencapai lebih dari 90 persen.
Di sisi lain, tantangan terbesarnya justru sering kali datang dari rasa bersalah sang pemilik. Banyak orang merasa tega membatasi ruang mobilitas peliharaannya. Dr. Susan Hazel, peneliti senior dalam studi ini, menekankan pentingnya support emosional bagi para pemilik kucing selama masa transisi.
"Memelihara kucing di dalam rumah memberikan faedah besar bagi keselamatan dan kesejahteraan mereka. Namun, keberhasilan transisi ini sangat berjuntai pada support nan diberikan kepada pemiliknya," ungkap Hazel.
Dari segi perilaku, kebanyakan kucing tidak mengalami perubahan ekstrem. Perubahan nan paling sering muncul hanyalah sifat nan menjadi lebih manja dan menuntut perhatian lebih (attention-seeking). Masalah perilaku berat seperti agresi, gangguan makan, alias grooming berlebihan relatif tidak ditemukan.
Untuk mendukung masa transisi ini, sebagian besar pemilik menambah akomodasi di rumah, seperti tiang garukan (scratching post), bak pasir (litter box) ekstra, hingga ruang luar tertutup (catio). Meski pengeluaran untuk kebutuhan harian meningkat, pemilik dapat menghemat anggaran perawatan medis lantaran akibat cedera akibat perkelahian di luar rumah berkurang secara signifikan.
Meski studi nan didukung oleh Companion Animals New Zealand (CANZ) ini berbasis pada sampel terbatas dan penilaian subjektif pemilik, hasilnya memberikan gambaran optimistis. Mengubah pola hidup kucing menjadi indoor adalah langkah nan sangat memungkinkan untuk dilakukan demi keamanan dan masa depan anabul nan lebih panjang. (EArth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·