Kredit Perbankan Tembus Rp 9.081 Triliun, Tumbuh 12,67%

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Penyaluran angsuran perbankan terus menunjukkan tren positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat angsuran perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67% secara tahunan menjadi Rp 9.081 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 nan sebesar 11,51%.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pertumbuhan angsuran didorong oleh nyaris seluruh segmen pembiayaan. Berdasarkan penggunaannya, angsuran investasi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 24,9% yoy.

"Pertumbuhan angsuran pada Juni 2026 kembali terakselerasi ke nomor 12,67% year-on-year menjadi sebesar Rp 9.081 triliun. Ini meningkat dibandingkan posisi bulan Mei 2026 nan tumbuh 11,51% year-on-year. Berdasarkan jenis penggunaan, angsuran investasi tumbuh tertinggi ialah sebesar 24,9%,"kata Dian dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2026 secara virtual, Selasa (4/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan kategori debitur, angsuran korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 20,45% yoy. Sementara itu, angsuran upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan perbaikan dengan tumbuh 1,05% yoy, meningkat dibandingkan Mei nan hanya tumbuh 0,60% yoy.

Dari sisi kepemilikan bank, angsuran nan disalurkan bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,54% yoy. Di sisi penghimpunan dana, biaya pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,21% yoy menjadi Rp 10.282 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan giro sebesar 9,95% yoy, simpanan 8,20% yoy, dan tabungan 12,16% yoy.

OJK mencatat pertumbuhan angsuran nan lebih tinggi dibandingkan DPK menyebabkan likuiditas perbankan sedikit menurun, namun tetap berada pada level nan memadai. Rasio perangkat likuid terhadap biaya non-core deposit (AL/NCD) tercatat 101,92%.

Sedangkan rasio perangkat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 23,08%, tetap jauh di atas periode pemisah minimum masing-masing sebesar 50% dan 10%. Sementara itu, rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 182,75%, menunjukkan kondisi likuiditas perbankan tetap kuat.

Dari sisi kualitas aset, OJK mencatat perbaikan rasio angsuran bermasalah. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross turun menjadi 2,09% dari sebelumnya 2,17%, sedangkan NPL net membaik menjadi 0,82% dari 0,84%. Adapun Loan at Risk (LAR) juga turun menjadi 8,47% dari 8,72% pada Mei 2026.

"Sementara itu, kualitas angsuran membaik dengan rasio NPL plus turun ke nomor 2,09%. Di mana Mei nan lampau berada di nomor 2,17% dan NPL net terjaga di nomor 0,82%. Sementara Mei nan lampau tercatat sebesar 0,84%, sementara loan at risk tercatat sebesar 8,47%. Dan Mei nan lampau tercatat sebesar 8,72%," beber Dian.

Di sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) perbankan meningkat menjadi 2,47% dari sebelumnya 2,45%. Sementara itu, ketahanan permodalan tetap terjaga dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,70%, nan dinilai tetap memberikan ruang nan kuat bagi perbankan untuk menyerap risiko.

(ily/hal)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance