Koran, Payung dan Salat Istiska di Kudus

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Bupati Kudus (busana muslim biru muda) berbareng Forkopimda Kudus dan masyarakat Kudus melaksanakan salat Istisqa di laman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Siang itu mentari tengah terik-teriknya. Namun panas pun tak kuasa untuk membubarkan barisan jemaah nan sudah teguh untuk melaksanakan salat istiska, meminta hujan.

Berbekal kardus, surat kabar bekas, dan perangkat nan lebih proper seperti payung, mereka tetap intens beragama di laman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (4/9) siang.

Sinar mentari tepat berada di atas kepala saat para jemaah memasuki laman Pendapa Kabupaten Kudus. Mereka hendak menjalankan salat Istiska untuk meminta hujan di tengah maraknya kekeringan nan melanda beragam daerah.

Jemaah laki-laki nan didominasi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus duduk di barisan saf depan. Mereka tampak ada nan memakai kardus air mineral di kepala untuk menghalau paparan sinar mentari secara langsung. Selain itu ada nan menggunakan sajadah hingga sorban di atas kepala.

Di barisan belakang, para jemaah wanita berbanjar memenuhi saf nan ada. Tampak, jemaah menggunakan surat kabar untuk menutupi kepala. Ada juga nan membawa payung agar tak terkena sinar mentari secara langsung.

Salah seorang jemaah, Muhammad Ulin Nuha memanfaatkan syal sorban nan biasa digunakan untuk salat sebagai penutup kepala. Ia mengaku kepanasan lantaran sinar mentari tepat di atas kepala.

"Saya pakai serban lantaran tidak tahan dengan panas. Kalau terlalu panas tenaganya tidak kuat. Ya agar tidak pingsan," katanya kepada kumparan, Jumat (4/9).

ASN Pemkab Kudus dan masyarakat bersujud saat melaksanakan salat Istisqa di laman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Ia menyambut baik aktivitas salat Istiska ini. Apalagi saat ini di Kabupaten Kudus memasuki musim kemarau.

"Sudah lama di Kudus tidak turun hujan. Semoga setelah ini segera turun hujan," imbuhnya.

Jemaah lainnya, Tulus Santosa, menggunakan kardus air mineral untuk menutupi kepala sebelum salat dan selama mendengarkan khotbah.

"Pakai kardus lantaran cuaca panas. Kebetulan dapat kardus kosong jejak air mineral. Supaya badan terlindungi dari panas sembari melaksanakan salat," jelasnya.

Ia ikut salat Istiska untuk memohon hujan. Sehingga kekeringan nan terjadi di Kabupaten Kudus maupun di beragam wilayah lainnya segera selesai.

"Doa saya segera turun hujan dan mendapatkan keberkahan berupa air. Karena saat ini semua sedang memerlukan air," ujarnya.

Pemkab Kudus berbareng masyarakat melaksanakan salat Istisqa di laman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Data nan dihimpun kumparan dari BPBD Kudus, ada empat desa nan terdampak kekeringan. Desa tersebut adalah Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Setrokalangan, dan Desa Kedungdowo.

Per Rabu (2/9) korban terdampak kekeringan di Desa Glagahwaru ada 606 KK alias 1.695 jiwa.

Sedangkan di Desa Colo ada 20 KK alias 80 jiwa. Kemudian di Desa Setrokalangan ada 94 KK alias 246 jiwa dan Desa Kedungdowo ada 91 KK alias 295 jiwa.

Sementara itu, Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris, menyampaikan salat Istiska nan digelar hari ini sebagai bagian dari ikhtiar meminta keberkahan hujan. Terlebih saat ini kekeringan sedang melanda Kota Kretek.

"Kami memohon angan kepada Allah SWT agar diberi hujan. Hujan nan berkah dan barokah," kata Sam'ani, Jumat (4/9).

Kepala Kemenag Kudus, Shony Wardana memimpin angan saat salat Istisqa di laman Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (4/9/2026) siang. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sam'ani menambahkan, ada empat desa di Kabupaten Kudus nan terdampak kekeringan. Tepatnya di Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Setrokalangan, dan Desa Kedungdowo.

"Kekeringan terjadi di empat desa. Sedangkan jumlah titik kebakaran sepanjang Agustus 2026 ada 48 titik lahan nan terbakar. Alhamdulillah semua bisa tertangani," sambungnya.

Lebih lanjut, perihal akibat tandus di Kabupaten Kudus menurut Sam'ani memang sudah terasa. Namun, tetap dapat diatasi.

"Dampaknya terasa tapi tidak signifikan. Kekeringan nan sudah terjadi di empat desa tadi. Ya minta maaf terkadang ada nan sengaja dibakar oleh oknum, lantaran setelah dibakar muncul tunas-tunas nan baru," terangnya.

Pihaknya memastikan kesiapan armada pemadam kebakaran cukup untuk mengatasi musibah kebakaran. Armada pemadam kebakaran dari pihak swasta diyakini siap untuk mengcover.

"Jumlah armada nan ada di aktivitas ini sebanyak 12 unit. Tetapi nan disiagakan di beragam tempat ada sekitar 50-an. Kemudian suplai air bersih juga aman," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan