Konsumsi Pertalite Meningkat Usai Harga Pertamax Naik, Begini Datanya

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta -

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas menyampaikan adanya tren pergeseran (shifting) konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Hal ini terjadi usai terjadi kenaikan nilai Pertamax.

"Ini menunjukkan adanya pergerakan nilai BBM khususnya RON 90 ini Pertalite. Ini konsumsinya cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan nilai BBM nonsubsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," ujar Wahyudi dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).

Wahyudi menjelaskan rerata penyaluran Pertalite harian pada periode 18 April hingga 10 Juni 2026 mencapai 75.795 kiloliter (KL). Namun, usai nilai BBM nonsubsidi naik, konsumsi Pertalite harian turut melonjak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan info monitoring BPH Migas, konsumsi harian Pertalite naik sebesar 9,19% alias bertambah sekitar 6.965 KL per hari pada periode 10 Juni hingga 1 Juli. Tren kenaikan ini semakin tajam pada periode 1 hingga 31 Juli 2026, di mana rerata konsumsi Pertalite melambung hingga 12,92% dengan selisih kenaikan mencapai 9.794 KL per hari dibanding kondisi awal.

"Sementara pada bulan periode Agustus hingga saat ini agak sedikit menurun lantaran nilai Pertamax juga ada terkoreksi semula Rp 16.250 menjadi Rp 15.950 mengalami penurunan sehingga konsumsinya untuk Pertamax juga turun. Jadi artinya kenaikan konsumsi Pertalite nan rerata saat ini menjadi 84.368 KL ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite," tambah ia.

Tak hanya Pertalite, penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) solar juga mengalami kenaikan signifikan. Rerata penyaluran harian Solar nan semula berada di nomor 50.624 KL melonjak secara berjenjang hingga menyentuh 58.271 KL per hari, alias naik sebesar 15,10% pada Agustus.

Wahyudi menjelaskan aspek nan menyebabkan peningkatan konsumsi solar lantaran disparitas nilai semakin melebar. Selain itu, lonjakan kebutuhan Solar juga didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi nasional.

Peningkatan aktivitas logistik untuk mendukung arus ekspor-impor tercatat meluas di beragam pusat wilayah seperti Jawa Timur, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, hingga Makassar.

"Ini krusial untuk dicermati lantaran di TW2 ini aktivitas logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut," jelas ia.

Tak hanya itu, pertumbuhan sektor-sektor produktif turut mengambil peran besar. Sektor perdagangan mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,39% year to date (ytd), sektor akomodasi serta makan dan minuman tumbuh 10,60% ytd, sementara sektor pertanian tumbuh 3,8% ytd.

"Dan ini mendorong kenaikan konsumsi minyak solar di samping sektor produksi lainnya," terang Wahyudi.

(rea/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance