Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, memastikan kategori Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) nan dinilai belum jeli tengah diperbaiki melalui Sensus Ekonomi 2026.
Perbaikan ini krusial di tengah upaya Indonesia menghindari jebakan negara berpenghasilan menengah, mengingat pendapatan per kapita saat ini baru menuju USD 6.000. Angka itu tetap jauh dari standar negara maju nan berada di kisaran USD 23.000.
"Saat ini ada beban nan berat juga dari sisi aspek kemiskinan...Desil ini menjadi salah satu aspek nan kudu kita perbaiki juga, gimana ke depan kita mentransformasi data-data nan lebih aktual, up to date, dan kemudian kita bisa mendapatkan nomor nan sebenarnya," tegasnya saat menghadiri OJK Digital Financial Innovation Day 2026, Kamis (27/8).
Misbakhun menjelaskan beragam parameter DTSEN sedang diukur ulang agar penyaluran perlindungan sosial (perlinsos) dan subsidi daya bisa lebih tepat sasaran. Ia menyebut pemerintah sekarang menggarap sensus ekonomi secara perincian sebagai bagian dari proses tersebut.
Meski BPS tidak lagi berada di bawah pengawasan Komisi XI, Misbakhun menegaskan parlemen tetap mengawal perbaikan info desil lantaran berangkaian langsung dengan pos anggaran negara.
Desil nan jeli menjadi tolok ukur utama untuk menentukan siapa nan berkuasa menerima support sosial, support pangan, hingga subsidi.
"Jangan sampai kemudian negara sudah menggelontorkan duit nan nilainya sampai ribuan triliun itu, kemudian tidak tepat sasaran," tandas Misbakhun.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·