Kisah Tunanetra Taklukan Batas hingga Sarjana

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Dani kembali bercerita mengenai pengalamannya saat menjalani perkuliahan. Menurut dia, pengajar perlu menyediakan akomodasi alias materi nan dapat diakses mahasiswa dengan gangguan penglihatan, termasuk penyandang low vision.

Dani juga mengingatkan mahasiswa penyandang disabilitas agar tidak malu meminta support andaikan memang membutuhkannya.

"Karena saya dulu low vision, saya waktu kuliah itu tetap lebih baik dari hari ini, dulu tetap pakai kaca pembesar jika baca buku. Nah, dulu jika ujian, itu saya minta fotokopinya diperbesar. Jadi, ukurannya nan bisa terbaca oleh penglihatan saya dan dibantu oleh kaca pembesar itu tetap bisa," ucap dia.

"Jadi, selain pengguna screen reader, tapi kan ada low vision nan mungkin tetap manual membacanya, mungkin dia bakal lebih nyaman menggunakan large print. Large print seperti itu kelak mungkin ada request butuh pembesaran materi perkuliahan, misalnya. Nah, mungkin itu perlunya ya, ada disabilitas ketika mahasiswa butuh hal-hal seperti itu bisa request," sambung Dani.

Juwita juga berambisi para pengajar dapat memberikan akomodasi nan layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Menurut dia, akomodasi bukan berfaedah memberikan perlakuan istimewa, melainkan memastikan setiap mahasiswa mendapatkan akses nan sama.

"Jadi arti akomodasi nan layak itu bukan mengistimewakan, tapi memberikan akses nan sama," ucap dia.

Juwita juga menceritakan pengalamannya ketika kudu mengikuti mata kuliah fotografi. Sebagai penyandang tunanetra total, dia menyadari ada bagian dari mata kuliah tersebut nan susah diikuti.

Sebelum perkuliahan dimulai, Juwita terlebih dulu berbincang dengan pengajar untuk mencari corak penilaian nan dapat disesuaikan dengan kondisinya.

"Jadi dulu ada mata kuliah fotografi. Saya sebelum mulai kelasnya sudah ketemu sama dosennya. Kemudian saya, sebelum kelas mulai, saya bilang, 'Pak, saya ada gangguan penglihatan, saya tunanetra, kan jika ikut hunting foto itu enggak bisa,'" kata dia.

"Tapi untuk menyesuaikan pengambilan penilaian untuk mata kuliah ini, saya kira-kira bisa diganti sama apa ya, Pak? Coba anaknya ditanya dulu, kira-kira Anda kepikiran apa? Karena waktu itu saya mengajukan, kelak saya setiap minggu, alias setiap berapa minggu sekali, saya bikin makalah, Bapak boleh kasih ininya. Terus Bapaknya setuju, oke. Nanti jika ujian, kelak saya kasih soal," sambung Juwita.

Jangan Berasumsi, Selalu Bertanya

Dani mengingatkan masyarakat agar tidak langsung berasumsi ketika memandang penyandang disabilitas memerlukan bantuan.

Menurut dia, orang nan menggunakan tongkat unik tunanetra belum tentu selalu memerlukan pertolongan. Karena itu, langkah terbaik adalah menanyakan terlebih dulu apakah support diperlukan.

"Ketika ada orang ngeluarin tongkat, berfaedah dia butuh bantuan. Apakah betul begitu dugaan nan sebaiknya kita gunakan alias tidak? Nah, jangan asumsi, selalu bertanya, jadi jangan langsung, tapi ketika dia mengeluarkan tongkat, bisa ditawarkan, butuh support tidak?" kata Dani.

"Ditanya, jadi jangan langsung, dilihat dulu situasinya apakah dia celingak-celinguk kayak orang lagi cari sesuatu. Dan itu kadang-kadang bingung. Makanya bisa mulai disamperin, ditanya, apakah butuh bantuan?" tutup Dani.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita