Khutbah Jumat: Nuzulul Quran dan Spirit Membaca untuk Peradaban

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

JAKARTA - uzulul Qur’an mengajarkan bahwa kebangkitan manusia dimulai dari perintah Iqra’ alias membaca dan memahami. Momentum ini bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk diamalkan sebagai pedoman hidup agar lahir masyarakat nan berilmu, berakhlak, dan bisa mewujudkan peradaban nan mulia.

Berikut naskah Khutbah Jumat nan berjudul, “Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban”, nan membujuk kaum muslimin untuk mengingat dan mendalami makna di kembali turunnya Al-Qur’an, sebagiamana dilansir dari NU Online.

Khutbah I

‌اَلْحَمْدُ ‌لِلّٰهِ ‌الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى  فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ، خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ، اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ، الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ، عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat nan dirahmati Allah,

Menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perlu kita pahami bahwa ketakwaan bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga ketaatan dalam menerima, memahami, dan mengamalkan wahyu Allah nan termaktub dalam Al-Qur’an.

Terlebih pada momentum bulan Ramadhan nan mulia ini, kita diingatkan pada peristiwa agung Nuzulul Qur’an yakni, turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup kita. Wahyu pertama nan turun bukanlah perintah shalat, bukan pula perintah zakat, tetapi perintah untuk membaca alias Iqra’. Ini menunjukkan bahwa jalan menuju takwa dimulai dari membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayat Allah.

Takwa tanpa pengetahuan bakal rapuh. Ilmu tanpa membaca tidak bakal tumbuh. Maka momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bagi kita bahwa membangun ketakwaan kudu diawali dengan membangun tradisi membaca, membaca Al-Qur’an, membaca tanda-tanda kebesaran Allah, serta membaca realitas kehidupan.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com