Kesepakatan Iran Bikin Kubu Republik Retak, Trump Diserang

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Kesepakatan Iran Bikin Kubu Republik Retak, Trump Diserang Presiden AS Donald Trump(White House)

KESEPAKATAN nan dicapai Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Iran memicu gelombang kritik dari kalangan Partai Republik sendiri. Sejumlah tokoh konservatif menilai perjanjian tersebut jauh dari kemenangan absolut nan selama ini dijanjikan Trump dan berpotensi membikin Teheran kembali kuat secara ekonomi maupun militer.

Memorandum of Understanding (MoU) nan ditandatangani Trump di Prancis bermaksud mengakhiri bentrok berkepanjangan di Timur Tengah, membuka kembali Selat Hormuz, serta menstabilkan pasar daya dunia setelah perang nan memicu lonjakan nilai minyak dan kekhawatiran bakal krisis area nan lebih luas.

Namun, isi kesepakatan itu menuai reaksi keras dari para politikus Republik nan selama bertahun-tahun menjadi penentang utama perjanjian nuklir Iran era Presiden Barack Obama pada 2015.

Mereka menilai Washington memberikan terlalu banyak konsesi kepada Teheran, mulai dari pelonggaran sanksi, akses kembali ke pasar minyak internasional, hingga kesempatan memperoleh biaya rekonstruksi senilai US$300 miliar.

Senator Republik Bill Cassidy menjadi salah satu pengkritik paling vokal. Dia apalagi menyebut kesepakatan tersebut sebagai kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade. “Ronald Reagan pasti bakal bergulir di kuburnya,” tulis Cassidy melalui media sosial X.

“Sebelum perang, Selat Hormuz terbuka, Iran tertekan oleh sanksi, dan 13 personil militer Amerika tetap hidup. Sekarang 13 penduduk Amerika tewas, rakyat bayar mahal nilai bahan bakar, hukuman dicabut, dan pengeboman dihentikan,” ujarnya.

Nada serupa disampaikan Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker. Menurut dia, isi MoU bertentangan dengan tujuan nan sebelumnya disampaikan Trump.

Wicker menyoroti rencana pembentukan biaya rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar nan menurutnya jauh lebih besar dibanding faedah nan diperoleh Teheran dalam kesepakatan nuklir 2015.

“Dana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran senilai US$300 miliar bakal membikin untung nan diperoleh Iran pada perjanjian era Obama terlihat sangat kecil,” katanya.

Trump memihak kesepakatan tersebut dengan menyebutnya sebagai solusi realistis untuk membuka kembali salah satu jalur daya terpenting dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz.

Dia juga menegaskan kesepakatan itu belum final dan Amerika Serikat tetap mempunyai opsi melanjutkan serangan militer jika perundingan lanjutan kandas mencapai hasil. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai Trump mulai melunakkan tuntutannya. Saat perang tetap berlangsung, dia sempat menyerukan penyerahan total Iran dan pembongkaran penuh program nuklir negara tersebut.

Dalam kesepakatan terbaru, Iran hanya diwajibkan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka selama masa negosiasi 60 hari. Sebagai gantinya, Teheran memperoleh pelonggaran hukuman nan memungkinkan mereka kembali menjual minyak di pasar internasional.

Perjanjian itu juga hanya mengulangi komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir tanpa mewajibkan penghentian segera pengayaan uranium alias penyerahan stok uranium nan telah diperkaya.

Senator Ted Cruz mengingatkan agar pemerintah tidak memberikan support finansial besar nan justru memperkuat Iran. “Saya tidak mau kaum Islamis teokratis nan mau membunuh kita menjadi lebih kuat. Jika kesepakatan ini memberi mereka US$300 miliar, itu sebuah kesalahan,” katanya.

Senator John Cornyn juga mengaku cemas kesepakatan itu hanya menjadi jarak sementara nan memungkinkan Iran membangun kembali kekuatan militernya dan melanjutkan program pengayaan uranium.

Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mengambil posisi lebih hati-hati. Dia meminta pemerintah menjelaskan apakah kesepakatan tersebut betul-betul menyentuh rumor program nuklir, rudal balistik, dan support Iran terhadap golongan militan.

Meski demikian, tidak semua sekutu Trump menolak langkah tersebut. Senator Lindsey Graham memilih memberi kesempatan pada jalur diplomasi. “Kesepakatan ini membuka Selat Hormuz, menghentikan permusuhan, dan memberi ruang untuk menguji apakah diplomasi bisa membatasi ambisi nuklir Iran. Saya ragu mereka bakal sukses dalam rumor nuklir, tetapi tidak ada salahnya mencoba," ujarnya. (AFP/Dhk/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia