Bukan Timur Tengah, Trump Menggila di Sini-211 Orang Tewas

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan serangan udara mematikan terhadap sebuah kapal nan dituduh menyelundupkan narkoba di area timur Samudra Pasifik pada Kamis. Operasi ofensif ini merupakan bagian dari kampanye militer intensif pemerintahan Donald Trump selama beberapa bulan terakhir untuk menumpas jaringan penyelundup di Amerika Latin.

Mengutip The Guardian, Jumat (19/6/2026), kejadian terbaru ini menambah jumlah korban tewas akibat serangan kapal oleh militer AS menjadi sedikitnya 211 orang sejak awal September lalu. Pemerintahan Trump secara konsisten membidik para pelaku nan mereka labeli sebagai golongan "narkoteroris" demi membendung arus masuk obat-obatan terlarang ke negaranya.

"Serangan udara tersebut menargetkan para terduga penyelundup narkoba di sepanjang rute penyelundupan nan telah diketahui," tulis rilis resmi Komando Selatan AS (US Southern Command) tanpa memberikan bukti bentuk kuat bahwa kapal nan dihancurkan tersebut betul-betul sedang mengangkut narkoba.

Sebuah rekaman video nan diunggah di platform X memperlihatkan momen menegangkan saat kapal motor tersebut sedang melaju sigap di atas air. Beberapa detik kemudian, kapal tersebut langsung meledak dahsyat dan terbakar setelah dihantam oleh proyektil militer AS.

Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini berada dalam status "konflik bersenjata" melawan kartel narkoba di Amerika Latin. Ia membenarkan tindakan keras tersebut sebagai eskalasi nan diperlukan untuk menghentikan kasus overdosis fatal nan merenggut banyak nyawa penduduk Amerika.

Kendati demikian, kebijakan represif ini memicu gelombang kritik dari para master norma militer serta sejumlah senator dari Partai Demokrat. Mereka mempertanyakan legalitas serta efektivitas serangan kapal tersebut, mengingat unsur mematikan seperti fentanyl umumnya diselundupkan melalui jalur darat dari Meksiko.

"Kami menuntut agar Pentagon segera merilis video tanpa sensor dari rangkaian serangan udara tersebut kepada publik," tegas sejumlah senator dalam sidang parlemen pada hari Kamis guna menuntut transparansi militer.

Sorotan norma terdahsyat mengarah pada kejadian awal September lalu, di mana dua orang nan selamat dari serangan pertama dilaporkan sedang berpegangan pada puing-puing kapal nan hancur. Namun, militer AS justru meluncurkan serangan kedua nan langsung menewaskan kedua korban selamat tersebut seketika.

Pihak Gedung Putih sendiri telah mengonfirmasi adanya serangan lanjutan nan kontroversial tersebut di depan awak media. Mereka berkilah bahwa tindakan itu dilakukan murni atas dasar pertahanan diri demi memastikan kapal sasaran betul-betul hancur total sesuai norma bentrok bersenjata.

Namun, argumen sepihak pemerintah tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh sejumlah akademisi dan master norma internasional. Bagi mereka, meluncurkan serangan kedua nan sengaja membunuh korban selamat nan sudah tidak berkekuatan adalah tindakan terlarangan dalam situasi apa pun.

Merespons polemik nan kian meruncing, lembaga pengawas Pentagon mengumumkan rencana untuk mengevaluasi prosedur penargetan nan digunakan oleh militer. Kendati demikian, instansi pengawas jenderal menegaskan bahwa pertimbangan tersebut hanya bakal berfokus pada siklus teknis penargetan dan bukan pada penilaian aspek legalitas norma serangan.

(tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News