Keok Lawan Produk China-Tarif Trump, VW Putuskan PHK 100.000 Karyawan

Sedang Trending 42 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa otomotif Volkswagen mengumumkan bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 100.000 karyawannya pada akhir dasawarsa ini. Keputusan drastis tersebut terpaksa diambil setelah perusahaan dihantam keras oleh tarif impor Amerika Serikat (AS) dan persaingan sengit dari rival-rival asal China.

Mengutip Guardian, Jumat (4/9/2026), manajemen dan serikat pekerja telah menyepakati rencana pemotongan biaya besar-besaran dengan memangkas 50.000 posisi tambahan pada tahun 2030, sehingga total PHK nan direncanakan mencapai 100.000 orang. Jumlah model mobil nan diproduksi oleh grup Volkswagen, nan juga menaungi merek Bentley dan Audi, bakal dipangkas hingga setengahnya.

"Sangat krusial untuk secara sistematis menyelaraskan tingkat tenaga kerja dengan realitas ekonomi," paparnya.

CEO Volkswagen, Oliver Blume, sebelumnya sempat disoraki oleh para staf pada bulan lampau selama tur di instansi pusat perusahaan di Wolfsburg saat berbincang mengenai tantangan keuangan. Saat itu, rencana restrukturisasi ini belum disetujui oleh majelis pengawas nan mewakili tenaga kerja dan pemegang saham.

Namun pada hari Kamis, perusahaan memastikan bahwa majelis nan kuat tersebut sekarang telah memberikan lampu hijau sepenuhnya.

"Dewan pengawas telah dengan bunyi bulat menyetujui rencana masa depan majelis pelaksana nan disajikan hari ini. Ini adalah sinyal kuat untuk masa depan grup Volkswagen," ungkapnya.

Total 100.000 posisi nan dieliminasi ini bakal menjadi restrukturisasi terbesar nan pernah dilakukan dalam industri otomotif global. Angka tersebut setara dengan sekitar 15% dari total 650.000 tenaga kerja Volkswagen di seluruh mereknya, nan juga mencakup Skoda, Seat, Porsche, Cupra, dan Lamborghini.

Selain pemangkasan tenaga kerja besar-besaran, manajemen dan serikat pekerja juga sepakat bahwa masa depan empat pabrik di Jerman ialah di Hanover, Emden, Zwickau, dan Neckarsulm tidak dapat dijamin kelangsungannya memasuki tahun 2030-an dan berpotensi ditutup secara permanen dalam delapan tahun ke depan.

Tekanan berat nan dialami Volkswagen sejatinya tak terlepas dari tren penurunan untung dan masalah kelebihan produksi di Eropa nan telah membayangi selama bertahun-tahun. Persaingan dengan merek China di Eropa maupun di Negeri Tirai Bambu sendiri telah menjadi salah satu katalis jelek performa raksasa otomotif Jerman ini.

Persoalan serupa juga dialami pabrikan otomotif Jerman lainnya seperti BMW. Perusahaan asal Munich itu terpaksa memangkas pedoman untung tahun ini akibat gangguan rantai pasokan dari perang Iran dan sulitnya menembus pasar domestik China.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News