Kenali Gejala Difteri Sejak Dini, Jangan Abaikan Selaput Abu-Abu di Tenggorokan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kenali Gejala Difteri Sejak Dini, Jangan Abaikan Selaput Abu-Abu di Tenggorokan Ilustrasi(Magnific)

DIFTERI merupakan penyakit jangkitan nan disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menyerang saluran pernapasan bagian atas, terutama hidung dan tenggorokan, serta dapat berkembang menjadi kondisi nan rawan andaikan tidak ditangani dengan cepat.

Salah satu karakter unik penyakit ini adalah munculnya selaput tipis berwarna abu-abu nan menutupi tenggorokan dan amandel. Namun, tidak semua orang nan terinfeksi bakal mengalami indikasi nan jelas. Karena itu, pemeriksaan ke master sejak indikasi awal muncul sangat krusial untuk mencegah komplikasi nan lebih berat.

Selain menyerang saluran pernapasan, kuman penyebab difteri juga bisa menghasilkan racun nan dapat menyebar ke beragam organ tubuh. Jika tidak segera diobati, racun tersebut berpotensi merusak organ vital, seperti jantung, ginjal, hingga otak, apalagi dapat menakut-nakuti nyawa penderitanya.

Penularan Difteri Terjadi Melalui Percikan Air Liur

Difteri termasuk penyakit nan mudah menular. Penularan umumnya terjadi melalui percikan air liur nan keluar saat penderita batuk alias bersin. Seseorang dapat tertular andaikan tanpa sengaja menghirup alias menelan percikan tersebut.

Selain melalui droplet, penularan juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh barang nan telah terkontaminasi air liur penderita, seperti gelas, sendok, alias peralatan makan lainnya, kemudian menyentuh area mulut alias hidung.

Karena penularannya nan cukup mudah, menjaga kebersihan diri dan menghindari kontak dekat dengan penderita menjadi salah satu langkah krusial untuk menekan penyebaran penyakit.

Siapa nan Berisiko Terkena Difteri?

Pada dasarnya, difteri dapat menyerang siapa saja. Namun, beberapa golongan mempunyai akibat lebih tinggi mengalami infeksi, antara lain:

  • Orang nan belum mendapatkan vaksin difteri secara lengkap.
  • Mereka nan tinggal di lingkungan padat masyarakat dengan sanitasi nan kurang baik.
  • Orang nan berjalan ke wilayah nan sedang mengalami pandemi difteri.
  • Individu dengan sistem kekebalan tubuh nan lemah, misalnya akibat AIDS alias kondisi lain nan menurunkan daya tahan tubuh.

Kenali Gejala Difteri Sejak Dini

Gejala difteri umumnya mulai muncul sekitar dua hingga lima hari setelah seseorang terinfeksi kuman penyebabnya. Meski demikian, ada pula penderita nan tidak menunjukkan indikasi sama sekali sehingga tetap berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.

Gejala nan paling unik adalah munculnya lapisan alias selaput berwarna abu-abu di tenggorokan dan amandel. Selain itu, penderita juga dapat mengalami beragam keluhan lain, seperti:

  • Sakit tenggorokan.
  • Suara serak.
  • Batuk.
  • Pilek.
  • Demam.
  • Menggigil.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Pembengkakan kelenjar getah cerah di leher sehingga muncul benjolan.

Apabila gejala-gejala tersebut muncul, terutama setelah kontak dengan penderita alias berada di wilayah nan sedang terjadi wabah, sebaiknya segera memeriksakan diri ke akomodasi kesehatan.

Difteri dapat berkembang menjadi kondisi nan serius dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penderita perlu segera mendapatkan penanganan medis andaikan mengalami tanda-tanda nan lebih berat, seperti sesak napas, gangguan penglihatan, jantung berdebar, keringat dingin, alias kulit nan tampak pucat hingga membiru.

Gejala tersebut dapat menandakan bahwa racun dari kuman telah memengaruhi organ tubuh dan memerlukan penanganan darurat di rumah sakit.

Imunisasi Menjadi Cara Terbaik Mencegah Difteri

Upaya paling efektif untuk mencegah difteri adalah melalui imunisasi. Di Indonesia, vaksin difteri diberikan dalam corak vaksin kombinasi DPT nan juga melindungi dari pertusis alias batuk rejan dan tetanus.

Vaksinasi membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap kuman penyebab difteri sehingga dapat mengurangi akibat terkena penyakit maupun mengalami komplikasi berat. Selain imunisasi, masyarakat juga dianjurkan menjaga kebersihan diri, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan diri andaikan mengalami indikasi nan mengarah pada difteri. (Alodokter/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia