Kasus Tantangan Hafalan Al-Qur'an: Produsen Miras, EO dan MC Dipolisikan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Advokat Muhammad Rizki dari Tim Hukum Muslim resmi melaporkan aktivitas promosi diduga minuman keras (miras) berkedok tantangan mahfuz Al-Qur'an di festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara.

Laporan tersebut diterima Polda Metro Jaya dan teregister dengan nomor LP/B/5914/VII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tanggal 11 Agustus 2026.

Lima orang nan dilaporkan adalah event organizer (EO), produsen miras, dua orang pembawa aktivitas alias MC dan wanita pelantun Al-Quran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari kami bakal laporkan kurang lebih lima pihak. nan pertama itu adalah EO dari aktivitas tersebut. nan kedua, produsen miras. nan ketiga, ada dua orang MC. Lalu nan terakhir itu wanita nan melafazkan Al-Qur'an demi mendapatkan satu botol miras,," kata Rizki di Polda Metro Jaya, Selasa (11/8).

Rizki mengaku melaporkan kasus ini lantaran sebagai seorang muslim dirinya merasa tersinggung dengan aktivitas promosi miras tersebut.

"Alasannya saya secara pribadi sebagai seorang muslim tersinggung, apalagi sakit hati ya. Dan sekaligus kami juga dari Advokat Muslim merasa bertanggung jawab untuk proses norma mereka dikarenakan ini menjadi ladang jihad kami juga dalam pekerjaan norma ini," ucap dia.

Atas dasar itu, Rizki pun melaporkan kelima orang tersebut nan dianggap bertanggung jawab atas aktivitas tersebut ke pihak berkuasa mengenai dugaan pelanggaran Pasal 300 KUHP.

Diketahui, Pasal 300 KUHP itu mengatur soal ancaman pidana bagi setiap orang nan melakukan perbuatan berkarakter permusuhan, menyatakan kebencian, alias menghasut kekerasan/diskriminasi terhadap agama, kepercayaan, golongan, alias golongan atas dasar kepercayaan di Indonesia.

Dalam laporan itu, Rizki turut membawa sejumlah peralatan bukti. Di antaranya video dan tangkapan layar nan berangkaian dengan kejadian.

Sebelumnya, aktivitas promosi diduga minuman keras (miras) berkedok tantangan mahfuz Al-Qur'an dalam pagelaran musik The Sounds Project nan digelar akhir pekan lalu, Minggu (9/8), di Jakarta Utara viral di media sosial.

Dalam video viral, visitor merekam momen sebuah booth produk miras nan gelar tantangan (challenge) mahfuz salah satu surah dalam kitab suci Al-Qur'an ialah Ad-Duha bagi pengunjung, dengan hadiah diduga sebotol miras nan dipromosikan.

Unggahan tersebut menuai gelombang kritik netizen nan menilai tindakan pemasaran tersebut sama sekali tidak mempunyai etika dan adab.

Pada unggahan di akun media sosial IG resmi The Sounds Project, pada Selasa (11/8), penyelenggara aktivitas pun buka suara.

"Kami sebagai penyelenggara aktivitas turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak bakal pernah, membenarkan perilaku nan menjadikan kepercayaan sebagai bahan challenge alias promosi produk dalam corak apa pun," demikian pernyataan resmi nan dikutip dari akun IG The Sounds Project.

"Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara," imbuhnya.

Kepolisian juga telah turun tangan untuk menyelidiki peristiwa tersebut. Pada Selasa hari ini menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak penyelenggara/event organizer (EO) dan pemandu aktivitas (MC) di Polres Metro Jakarta Utara. Ramai pihak mengecam aktivitas nan dinilai sudah menjadi kasus penistaan kepercayaan tersebut.

Sementara itu, Master of ceremony (MC) berjulukan Ega juga meminta maaf dan memberi penjelasan melalui akun medsos Threads @aqueer_. Dia mengakui lalai sehingga mik dikuasai audiens.

"Saya Ega, selaku MC pada aktivitas musik nan bekerja di booth Newport pada Hari Minggu, 9 Agustus 2026. Dengan ini menyampaikan permohonan maaf atas kejadian nan berjalan pada saat itu," tulis Ega di akun Threads @aqueer_. seperti dikutip dari detikcom. detikcom telah menghubungi MC untuk mengutip pernyataannya.

Dia mengatakan peristiwa itu terjadi saat jarak acara. Kemudian, ada audiens nan menggunakan mik hingga terjadi challenge membacakan mahfuz Al-Qur'an dengan hadiah sebotol minuman beralkohol (minol).

"Audiens tersebut langsung memberikan sayembara melafalkan salah satu surat kepada visitor lain dengan hadiah nan ditawarkan oleh audiens tersebut," katanya.

"Ketika mengetahui penyampaian sayembara tersebut, saya lalai untuk mengambil alih mik tersebut lantaran pada dasarnya MC mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk memastikan aktivitas berjalan sesuai konsep nan telah ditentukan oleh brand," sambungnya.

Dia mengatakan pihak brand tak mempunyai kaitan atas kejadian tersebut. Dia kembali minta maaf lantaran tak dapat mengendalikan audiens hingga berujung kontroversi tantangan tersebut.

"Sekali lagi, saya secara pribadi menyatakan permohonan maaf lantaran tidak bisa mengontrol tindakan spontan dari audiens tersebut, sehingga menimbulkan kegaduhan. Kejadian ini bakal menjadi pelajaran bagi saya sebagai MC, dan semoga perihal seperti ini tidak terulang lagi," ucap dia.

Selain itu, Manajemen Newport selaku produsen juga telah meminta maaf atas kegaduhan buntut kasus promosi minuman keras dengan tantangan mahfuz Al-Qur'an di Ancol, Jakarta Utara.

"Sehubungan dengan beredarnya video di booth Newport pada gelaran pagelaran musik The Sounds Project, Minggu (09/08), Newport menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian nan menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan nan terjadi," kata Direktur Newport, Handoko Sasongko dalam keterangannya, Rabu (11/8).

Handoko menyatakan bahwa aktivitas itu bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun pengarahan nan dibuat alias direncanakan oleh Newport.
Ia menyatakan aktivitas itu muncul secara spontan dari visitor nan berada di lokasi.

"Kami menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan nan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta budaya istiadat nan dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi," ucap dia.

Ia pun menyatakan bahwa Newport menghormati nilai-nilai kepercayaan serta sensitivitas nan hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Handoko menekankan penghormatan terhadap nilai-nilai tersebut menjadi perihal nan krusial dalam setiap aktivitas dan hubungan Newport dengan masyarakat.
"Kejadian ini merupakan peringatan keras sekaligus bahan refleksi mendalam bagi kami untuk segera merumuskan standar operasional(strict guidelines)secara lebih ketat, dengan menempatkan aspek kehormatan terhadap nilai religi, budaya istiadat, serta etika kemasyarakatan sebagai landasan," ujarnya.

(dis/dal)

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional