Jakarta, CNBC Indonesia - Tragedi kembali terjadi di jalur migrasi menuju Eropa setelah sebuah kapal nan membawa migran dari Gambia ditemukan terombang-ambing di lepas pantai Kepulauan Canary, Spanyol. Puluhan orang diduga tewas setelah kapal tersebut terdampar di laut selama nyaris satu bulan.
Helena Maleno, ketua LSM Spanyol Caminando Fronteras, mengatakan sebanyak 83 dari sekitar 127 penumpang kapal tersebut telah meninggal dunia. Ia menyebut para migran telah meninggalkan Gambia sekitar 27 hari sebelumnya.
"Empat wanita dan seorang bayi termasuk di antara para korban," kata Maleno, seperti dikutip CNN International, Jumat (4/9/2026).
Badan Keselamatan dan Penyelamatan Maritim Spanyol (SASEMAR) menyatakan telah menyelamatkan 44 orang dari sebuah "kapal darurat" pada Rabu malam. Kapal itu ditemukan sekitar 65 mil laut alias 120 kilometer barat daya Arguineguín, Gran Canaria, sementara tiga penyintas dalam kondisi kritis kudu dievakuasi melalui udara ke rumah sakit.
SASEMAR mengatakan kondisi cuaca jelek membikin petugas tidak dapat mengevakuasi jenazah lima orang lainnya. Otoritas maritim juga belum dapat memastikan jumlah pasti penumpang ketika kapal tersebut berangkat dari Gambia, meski para penyintas menyebut jumlahnya semula lebih dari 100 orang.
Palang Merah Kepulauan Canary mengatakan para penyintas nan diselamatkan berasal dari Mali alias Senegal, dengan beberapa di antaranya tetap di bawah umur. Juru bicara Palang Merah José Antonio Rodríguez Verona mengatakan para migran tiba dalam kondisi disorientasi dan dehidrasi, sementara sebagian lainnya pingsan dan muntah.
"Mereka mengatakan telah terdampar di laut selama berhari-hari," ujar Rodríguez Verona kepada The Associated Press. Persediaan makanan dan air mereka telah habis, apalagi sebagian jatuh sakit setelah terpaksa meminum air laut.
Menurut Caminando Fronteras, para penyintas mengungkapkan bahwa jenazah korban sebelumnya dibuang ke laut lantaran kondisi mereka makin lemah. LSM tersebut mencatat sedikitnya 1.317 orang meninggal dalam perjalanan migrasi menuju Spanyol selama lima bulan pertama tahun ini, termasuk 142 wanita dan 129 anak-anak, dengan nyaris separuh kematian terjadi di jalur Atlantik menuju Kepulauan Canary.
Kepala Pemerintahan Kepulauan Canary Fernando Clavijo mengecam tragedi tersebut dan mendesak pemerintah Spanyol memperbaiki kebijakan migrasinya. Desakan itu disampaikan di tengah tekanan terhadap Perdana Menteri Pedro Sanchez menyusul tindakan penyeberangan sekitar 72.000 orang dari Maroko menuju Ceuta hanya dalam dua hari pada Juli.
"Kita tidak bisa terus menangani migrasi dengan pola penanganan krisis demi krisis. Kita sedang berbincang tentang nyawa dan martabat," ujarnya.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·