Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor logistik nasional dengan mendorong pengembangan Dry Port Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara sejumlah pihak strategis, termasuk PT Kereta Api Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia, PT KITB, dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah untuk Kerja Sama Pembangunan, Pengembangan, dan Pengusahaan Logistik Berbasis Rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang nan dilaksanakan di Batang, Jawa Tengah, Selasa (21/04).
"Pembangunan Dry Port KITB merupakan langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi pengedaran barang, memperkuat daya saing produk Indonesia, sekaligus menjadikan Batang sebagai simpul logistik krusial di Jawa Tengah," ungkap Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, dalam pernyataan resmi, Kamis (28/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Deputi Ali menyampaikan pula pengarahan Menteri Kooordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai percepatan pembangunan Dry Port Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi berasas Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026, Menko Airlangga menegaskan bahwa dry port bakal menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan efisiensi transportasi logistik nasional. Kehadiran prasarana ini diharapkan bisa menekan biaya pengedaran sekaligus mempercepat arus peralatan dari dan menuju area industri. Infrastruktur ini dapat menjadi katalisator sistem logistik nasional nan modern, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus membuka kesempatan pencapaian sasaran pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada tahun 2029 sesuai RPJMN 2025-2029.
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada 2025, apalagi meningkat menjadi 5,39% pada Kuartal IV. PDB per kapita mencapai Rp83,75 juta alias setara US$ 5.082. Investasi juga menunjukkan tren positif dengan realisasi Rp 1.931,2 triliun, naik 12,7% dibanding tahun sebelumnya.
Sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, dengan capaian 8,78 persen pada Kuartal IV 2025 dan kontribusi lebih dari 6 persen terhadap PDB.
"Efisiensi sektor ini berkapak langsung pada kelancaran pengedaran peralatan dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global," ujar Ali.
Dry Port KITB diproyeksikan bisa menangkap potensi hingga 300.000 TEUs dari total 4 juta TEUs nan melintas di koridor Jawa Tengah. Untuk mewujudkannya, diperlukan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun nan mencakup pembangunan container yard, prasarana rel, serta akomodasi pendukung lainnya.
Selain itu, KEK Batang ditargetkan menjaring investasi hingga Rp60 triliun dalam 4-5 tahun ke depan.
"Dry port ini bakal menjadi jantung jasa logistik terintegrasi bagi puluhan pabrik dan industri baru nan bakal berdiri di area ini," pungkas Ali.
Sejak beroperasi, KITB telah menyerap 5.500 tenaga kerja dari enam perusahaan. Dengan pengembangan Dry Port, penyerapan tenaga kerja diproyeksikan melonjak hingga 39.000 orang pada 2029. Hal ini diharapkan bisa memberikan kontribusi besar bagi pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Deputi Ali menekankan pentingnya percepatan eksekusi MoU tersebut oleh seluruh pihak terkait. Pemerintah, melalui Kemenko Perekonomian, berkomitmen untuk terus mendukung dan memfasilitasi penuh setiap proses agar suasana investasi dan upaya tetap kondusif.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·