Yang Membuat Orang Tua Menangis Tidak Pernah Ada di Rapor

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Dua orang siswa sedang presentasi di depan kelas (foto pribadi)

Beberapa bulan lampau saya mendapat kesempatan menjadi apresiator dalam presentasi Proposal Hidup siswa kelas 9. Di ruangan itu datang siswa, guru, dan orang tua. Satu per satu siswa mempresentasikan perjalanan dirinya, mimpi nan mau diraih, tantangan nan pernah dihadapi, serta pelajaran hidup nan mereka dapatkan selama bersekolah.

Di tengah presentasi tersebut, ada satu momen nan terus terkenang sampai sekarang. Seorang orang tua bercerita tentang anaknya nan ketika pertama kali masuk sekolah nyaris tidak mempunyai kepercayaan diri. Berkumpul dan mengobrol dengan teman-temannya saja sering membuatnya canggung. Ia lebih banyak diam, susah memulai percakapan, dan tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Berbicara di depan orang lain adalah sesuatu nan nyaris tidak pernah dia lakukan.

Namun hari itu, anak nan sama berdiri di depan banyak orang dan mempresentasikan proposal hidupnya dengan tenang. Ia berbincang tentang cita-cita, nilai hidup nan mau dipegang, serta langkah-langkah nan mau dia tempuh setelah lulus. Orang tuanya tampak terharu. Di akhir presentasi, mereka menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada guru-guru serta sekolah nan telah mendampingi proses pertumbuhan anak mereka.

Momen tersebut membikin saya kembali menyadari sesuatu nan sering terlupakan dalam bumi pendidikan. Banyak perihal paling berbobot nan terjadi pada diri seorang anak justru tidak pernah tercetak di rapor.

Rapor memang penting. Melalui rapor, orang tua memperoleh gambaran tentang perkembangan akademik anak. Nilai Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, alias mata pelajaran lainnya dapat menjadi info nan berfaedah untuk memandang capaian belajar. Namun rapor mempunyai keterbatasan. Ia hanya bisa menangkap sebagian mini dari perjalanan seorang anak.

Rapor tidak mempunyai kolom nan dapat menunjukkan bahwa seorang anak nan dulu tidak berani berbincang sekarang bisa mempresentasikan gagasannya di depan publik. Rapor tidak mencatat bahwa seorang siswa nan sebelumnya selalu menghindari hubungan sekarang bisa membangun pertemanan nan sehat. Rapor juga tidak bisa menggambarkan gimana seorang anak belajar mengatasi rasa takut, mengelola kegagalan, alias menemukan kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit.

Padahal dalam kehidupan nyata, kemampuan-kemampuan tersebut sering kali jauh lebih menentukan daripada sekadar nomor akademik. Dunia masa depan tidak hanya memerlukan orang nan bisa menjawab soal dengan benar. Dunia memerlukan manusia nan bisa berkomunikasi, berkolaborasi, menyampaikan ide, menghadapi tantangan, dan bangkit ketika mengalami kegagalan.

Apa nan saya lihat dalam presentasi Proposal Hidup sebenarnya bukan sesuatu nan terjadi secara tiba-tiba. Keberanian itu tumbuh melalui proses nan panjang. Di SMP Hikmah Teladan, para siswa secara rutin mendapatkan kesempatan menjadi pembawa acara, memimpin doa, mempresentasikan proyek, memimpin diskusi, dan tampil dalam beragam aktivitas sekolah. Kesempatan-kesempatan mini nan diberikan secara konsisten itulah nan perlahan membangun rasa percaya diri mereka.

Proses nan sama juga berjalan sejak mereka tetap berada di bangku sekolah dasar. Di SD Hikmah Teladan terdapat program nan dikenal dengan nama Panggung Berani Gagal. Melalui program ini, anak-anak diberi ruang untuk tampil tanpa dibebani tuntutan kudu sempurna. Mereka dapat membacakan puisi, menunjukkan karya, mempresentasikan hasil belajar, tampil dalam unjuk kabisa saat upacara bendera, alias mengikuti beragam aktivitas nan disaksikan teman-teman maupun orang tua. Bahkan sekolah berupaya agar setiap anak mempunyai kesempatan menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan alias penampilan di luar sekolah.

Tujuan dari semua aktivitas tersebut bukan sekadar menghasilkan juara. nan lebih krusial adalah memberi kesempatan kepada setiap anak untuk mengalami proses mencoba. Sebab keberanian tidak tumbuh lantaran nasihat. Keberanian tumbuh lantaran pengalaman.

Pandangan ini sejalan dengan teori self-efficacy nan dikembangkan oleh psikolog Albert Bandura. Menurut Bandura, kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya sendiri terutama berkembang melalui pengalaman langsung dalam menghadapi tantangan. Ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba, kemudian sukses melewati rasa takutnya, otaknya membangun kepercayaan bahwa dia bisa menghadapi tantangan berikutnya. Semakin banyak pengalaman seperti itu, semakin kuat pula rasa percaya dirinya.

Penelitian Carol Dweck tentang growth mindset juga menunjukkan bahwa anak-anak berkembang lebih baik ketika mereka memandang kesalahan dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Anak nan terbiasa mencoba tidak bakal mudah runtuh ketika gagal. Mereka memahami bahwa keahlian dapat terus berkembang melalui latihan dan pengalaman. Karena itulah sekolah semestinya tidak hanya menjadi tempat anak belajar agar berhasil, tetapi juga tempat nan kondusif untuk mencoba dan sesekali gagal.

Sayangnya, pertumbuhan seperti ini sering luput dari perhatian ketika musim pembagian rapor tiba. Orang tua dan sekolah kadang terlalu konsentrasi membicarakan nomor sehingga lupa membicarakan manusia nan sedang bertumbuh di kembali nomor tersebut. Padahal nan paling membekas dalam kehidupan seorang anak sering kali bukan nilai nan diperolehnya, melainkan kepercayaan bahwa dirinya bisa berkembang.

Karena itu, ketika menerima rapor anak, mungkin ada satu pertanyaan nan layak diajukan selain menanyakan nilainya. Pertanyaan tersebut adalah: "Tahun ini, keberanian apa nan sukses tumbuh dalam diri anak saya?"

Sebab pada akhirnya, rapor mungkin dapat menunjukkan apa nan diketahui seorang anak. Namun nan membikin orang tua terharu, bangga, apalagi meneteskan air mata sering kali bukan nomor nan tercetak di atas kertas. nan membikin mereka terharu adalah ketika memandang anak nan dulu tidak percaya diri sekarang berani berdiri, berbicara, dan percaya pada dirinya sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan