Surabaya, CNN Indonesia --
Isak tangis tak terbendung menyelimuti kehadiran jenazah Imam Soeparno, laki-laki berumur 66 tahun nan menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi terbaliknya Kapal Motor Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9) lalu.
Saat mobil ambulans tiba di rumah duka di area Jalan Sememi Jaya Gang 4, Kota Surabaya, pada Rabu (16/9) siang, suasana haru langsung pecah.
Anggota family nan sudah menunggu panik menyambut peti jenazah Imam Soeparno. Seorang wanita jatuh lemas dan pingsan sehingga kudu dibopong oleh kerabat serta petugas nan bersiaga di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesedihan mendalam makin terasa ketika salah satu personil family menangis tersedu-sedu sembari memeluk erat peti jenazah Imam Soeparno sebelum disemayamkan.
Imam Soeparno dikenal sebagai sosok pekerja keras nan rela merantau jauh demi menafkahi keluarganya. Ia merupakan mekanik dan kernet truk nan kerap bolak-balik menyeberang pulau.
Sang adik, Syamsi, menuturkan kakaknya memang terpaksa mencari penghidupan hingga ke luar pulau lantaran menyusutnya kesempatan kerja di kota asalnya.
"Dia itu bekerja, asalnya bekerja di Surabaya, berinteraksi di Surabaya itu kemungkinan agak berkurang pendapatannya, dia ada pekerjaan di Kalimantan, ke sana. Ke Kalimantan," kata Syamsi.
Meski usianya sudah masuk kepala enam, Syamsi menyebut adiknya itu tak kenal capek mencari nafkah. Semasa hidup, ribuan mil jalan dan lautan dia jabani.
"Habis dari Kalimantan pulang lagi ke Surabaya. Habis gitu dipanggil lagi, disuruh ada pekerjaan di sana, kembali sana lagi. Sebagai kernet bisa, mekanik juga bisa," katanya.
Kabar duka mengenai nasib Imam pada awalnya sangat mengejutkan pihak keluarga. Syamsi mengungkapkan info pertama kali dia peroleh dari media sosial. Keluarga kemudian langsung mengecek ke posko terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
"Itu saya dapat buletin dari dari HP itu, medsos iya. Terus lenyap gitu saya ngecek di [Pelabuhan Tanjung] Perak di posko itu lenyap gitu saya cocok-cocokkan," ucapnya.
Pihak family sempat tak percaya. Pasalnya ponsel Imam tetap bisa dihubungi meski tak ada jawaban. Namun setelah menerima foto jenazah korban, Syamsi pun baru percaya.
"Saya sebelumnya memang kurang percaya. Masalahnya kan KTP apa itu kan tetap utuh gitu loh. Terus ada nomor HP apa itu kok tetap bisa dihubungi. Saya itu kurang yakin, lenyap gitu saya minta minta dengan secara agak memaksa, minta foto kakak saya itu," tuturnya.
Kepergian Imam meninggalkan duka mendalam, terutama bagi anak semata wayangnya, Novia. Sebelum tragedi nahas tersebut, Novia sempat berkomunikasi dengan sang ayah nan mengabarkan keberangkatannya.
Percakapan singkat itu rupanya menjadi pertanda perpisahan, di mana Imam mengisyaratkan bahwa pelayaran kali ini adalah nan terakhir kalinya dia bekerja.
"Ngobrol lewat WA pas dalam kapal, bilang saya berangkat. Ini ikut kapal Virgo. Sebenarnya Rucitra (KM Dharma Rucitra 1), tapi diganti sama Virgo. Terus tak saya bilang, ya hati-hati," kata Novia.
"Bilang ke aku, saya ikut satu kali ini aja, lenyap itu tidak kerja lagi. Terus tak tanyai kenapa? Enggak, enggak apa-apa, enggak kerja aja," ujarnya. Pamitan terakhir kerja justru berpulang," tambah Novia lirih.
Bagi keluarga, Imam adalah tulang punggung nan nyaris tidak mempunyai waktu untuk beristirahat di rumah. Kesibukannya bekerja dari satu pulau ke pulau lain membuatnya jarang berkumpul, namun kasih sayangnya kepada sang cucu tidak pernah pudar.
"Pulang kembali lagi ke Banjarmasin. Tidak sempat pulang, mau ke Banjar lagi, terus mau ke Sulawesi. Enggak kembali rumah sama sekali. Orangnya keras, tapi dia baik sama cucu-cucunya juga sayang. Cucu mau apa saja dikasih. Minta mainan apa dikasih," kenangnya.
Usai disemayamkan dan disalatkan oleh puluhan pelayat beserta penduduk sekitar di depan rumah duka, jenazah Imam Soeparno kemudian diangkat secara perlahan menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Iring-iringan pengantar jenazah melangkah kaki membawa peti melintasi jalanan kampung menuju Tempat Pemakaman Umum Babat Jerawat, Kota Surabaya.
Di bawah terik mentari siang, prosesi pemakaman berjalan khidmat. Taburan kembang di atas pusara diiringi lantunan angan menjadi salam perpisahan terakhir dari family untuk sang mekanik pekerja keras nan sekarang telah berpulang.
Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 dilaporkan lenyap kontak hingga akhirnya terbalik di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9), pukul 02.00 WITA, saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Kapal itu diketahui mengangkut 243 orang penumpang, awak kapal hingga kru, serta 89 kendaraan.
Hingga saat ini 114 korban telah ditemukan dan enam di antaranya meninggal dunia. Sementara 129 korban lainnya tetap belum ditemukan.
Enam korban meninggal bumi nan teridentifikasi ialah Reyner Fausta Yosilianto asal Malang, Nurul Rian Hidayat asal Pamekasan, Deny Ridzal Saputra asal Kediri, Imam Soeparno asal Surabaya, Erick Maisul Latif asal Garut, dan Risyan Kurnia Putra asal Garut.
(frd/dal)
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·