Hari ini saya baru saja membaca mengenai riset mengenai asupan nutrisi di Indonesia. Menurut penelitian tersebut, Indonesia termasuk negara dengan tingkat defisiensi vitamin D nan cukup tinggi. Estimasi masyarakat nan mengalami defisiensi vitamin D berada di nomor 40—70%.
Membaca nomor tersebut sejujurnya cukup mengherankan sekaligus juga agak lucu. Sebagai perbandingan, masyarakat di negara-negara nan berada di bagian bumi utara—seperti Finlandia, Swedia, alias Norwegia—memiliki kadar vitamin D nan lebih baik daripada di Indonesia. Padahal, negara-negara tersebut termasuk negara dengan tingkat paparan sinar mentari nan rendah dan lebih banyak mengalami musim dingin serta tertutup salju.
Mengapa komparasi ini agak unik? Karena tubuh manusia sebenarnya punya keahlian untuk menghasilkan vitamin D secara alami. Tubuh dapat menghasilkan senyawa nan disebut sebagai 7-dehydrocholesterol. Senyawa ini adalah vitamin D dalam corak nan tidak aktif serta diproduksi oleh kelenjar sebum dan disekresikan di dalam kulit manusia.
Ketika terpapar dengan sinar matahari, senyawa 7-dehydrocholesterol bakal diubah menjadi Cholecalciferol—senyawa inilah nan kemudian bakal dikonversi oleh tubuh menjadi vitamin D dalam corak nan aktif. Perubahan ini terjadi lantaran sinar mentari mengandung sinar ultraviolet B (UVB) dengan panjang sinar antara 290 sampai 315 nanometer. Paparan sinar UVB inilah nan membikin tubuh untuk bisa menghasilkan vitamin D secara alami.
Berdasarkan penelitian terkini, puncak sinar UVB paling optimal terjadi di antara pukul 10.00—14.00. Meskipun Indonesia adalah negara tropis nan tidak kekurangan paparan sinar mentari seperti negara-negara di Eropa Utara, tetapi nyatanya defisiensi vitamin D ini justru lebih banyak dialami di Indonesia.
Ada beberapa argumen utama kenapa defisiensi vitamin D ini lebih banyak dialami di Indonesia. Pertama, meskipun orang sudah mengetahui bahwa paparan sinar mentari nan cukup itu penting, suhu nan panas dan terik di Indonesia membikin orang enggan untuk melakukan aktivitas outdoor. Kedua, pola kerja kantoran dan sedentary lifestyle nan lebih banyak menggeser aktivitas masyarakat untuk terus berada di dalam ruangan.
Ketiga, kurangnya asupan makanan nan tinggi vitamin D, seperti susu, ikan, kuning telur, dan sejenisnya. Keempat, masyarakat Indonesia umumnya mempunyai kadar melanin nan lebih tinggi (kulit nan lebih gelap) sehingga mengurangi penetrasi UVB pada kulit.
Namun demikian, perlu digarisbawahi, meskipun dapat disediakan melalui diet, kadar vitamin D dalam makanan umumnya sedikit dan tubuh memerlukan vitamin D dari sumber lain.
Lalu, kenapa masyarakat di negara-negara eropa Utara mempunyai kadar vitamin D nan lebih tinggi daripada di Indonesia? Itu lantaran makanan nan diproduksi di sana umumnya diberikan tambahan alias fortifikasi dengan vitamin D, sehingga meskipun paparan sinar mataharinya minim, mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan vitamin D-nya.
Uniknya, di Indonesia sekarang mulai banyak suplemen vitamin D nan dijual di pasaran. Entah lantaran kebutuhan pasar alias berangkat dari info epidemiologi tersebut, cukup banyak masyarakat nan sekarang mengkonsumsi suplemen vitamin D. Hanya saja, sering kali orang mengonsumsi suplemen vitamin D tanpa terlebih dulu mengecek kadar vitamin D dalam tubuhnya.
Bagi orang-orang nan mengalami defisiensi vitamin D, konsumsi suplemen ini tentu tidak masalah. Namun, jika suplemen dikonsumsi oleh orang nan sudah mempunyai kadar vitamin D nan cukup alias berlebih, konsumsinya justru tidak menyehatkan, tetapi justru dapat menimbulkan akibat penyakit.
Vitamin D termasuk vitamin nan larut dalam lemak dan dimetabolisme dalam waktu nan lama. Jika tubuh kelebihan kadar vitamin D, dia bakal menyimpannya dalam jaringan lemak dan organ hati. Ketika kelebihan ini berjalan berkepanjangan, orang dapat berisiko mengalami mual, pusing, kalsifikasi (pengapuran) jaringan dan pembuluh darah, hingga terbentuknya batu ginjal.
Mengingat Indonesia adalah negara tropis dengan paparan sinar mentari nan cukup, dibandingkan dengan mengkonsumsi suplemen nan harganya juga cukup mahal, sebenarnya langkah paling mudah, murah, dan sigap untuk mengatasi defisiensi vitamin D adalah dengan rutin beraktivitas outdoor secara cukup dalam waktu singkat, sekitar 15—30 menit saja.
Namun, jika memang ada batas tertentu nan menghalangi untuk beraktivitas outdoor, suplemen dapat digunakan untuk mengatasi defisiensi vitamin D, dengan catatan bahwa sebelumnya sudah ada pengukuran vitamin D dalam tubuh dan konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelumnya.
Jika ada solusi nan lebih murah, kenapa kudu memilih solusi nan lebih mahal bukan?
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·