Jakarta, CNBC Indonesia - Struktur kekuasaan di Iran dilaporkan mengalami pergeseran drastis setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengambil alih kendali penuh atas keputusan strategis negara di tengah perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Mengutip laporan Reuters pada Selasa, tatanan baru ini muncul menyusul tewasnya Ayatollah Ali Khamenei nan selama ini menjadi pemegang otoritas tunggal di Teheran.
Meskipun putra mendiang, Mojtaba Khamenei, telah naik takhta sebagai Pemimpin Tertinggi, sejumlah sumber internal menyebut posisinya sekarang hanya sebagai pemberi restu alias legitimasi atas keputusan nan telah dirumuskan oleh para jenderal IRGC. Kondisi Mojtaba nan menderita luka parah akibat serangan udara di awal perang membuatnya terisolasi dan jarang muncul di publik.
"Warga Iran sangat lambat dalam merespons. Tampaknya tidak ada satu struktur komando pengambilan keputusan nan tunggal. Terkadang, mereka memerlukan waktu 2 hingga 3 hari hanya untuk merespons," ujar seorang pejabat senior pemerintah Pakistan nan terlibat dalam mediasi tenteram antara Iran dan AS, dikutip Rabu (29/4/2026).
Dominasi militer dalam politik Iran ini dipicu oleh situasi darurat perang nan memusatkan kekuasaan pada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan para komandan lapangan. Nama Ahmad Vahidi, komandan IRGC, disebut-sebut sebagai sosok paling berpengaruh saat ini nan mengatur strategi tempur sekaligus menentukan arah negosiasi gencatan senjata.
Para analis menilai bahwa peran Mojtaba saat ini tidak lagi berkarakter komando seperti ayahnya, melainkan lebih kepada upaya menjaga konsensus institusional agar rezim tetap terlihat solid. Namun, secara praktis, pengaruh para ustadz mulai tergerus oleh kekuasaan sektor keamanan.
"Penting untuk dicatat bahwa kesepakatan-kesepakatan besar mungkin melewati dia, tetapi saya tidak bisa membayangkan dia berani membatalkan keputusan Dewan Keamanan Nasional. Bagaimana dia bisa menentang pihak-pihak nan menjalankan upaya perang?" kata analis Iran, Arash Azizi.
Di sisi lain, negosiasi dengan Washington tetap menemui jalan buntu meskipun Iran telah mengusulkan proposal baru nan memisahkan rumor nuklir dengan penyelesaian bentrok di Teluk. AS tetap bersikeras bahwa masalah nuklir kudu dibahas sejak awal, sementara IRGC enggan terlihat lemah di meja diplomasi.
Mantan negosiator AS, Aaron David Miller, menyebut kejadian ini sebagai pergeseran esensial dalam langkah Iran dikelola, di mana pengaruh "kekuatan keras" sekarang jauh melampaui "kekuatan ilahi" para ulama.
"Kita telah beranjak dari kekuasaan ilahi ke kekuasaan keras. Dari pengaruh ustadz ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Inilah langkah Iran diperintah sekarang," ujar Miller.
Hingga saat ini, pihak Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan komentar resmi mengenai laporan perpecahan struktur kekuasaan tersebut. Namun, para pejabat Teheran sebelumnya selalu membantah adanya keretakan di internal mereka dalam menghadapi tekanan luar negeri.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·