John Ratcliffe.(The Hill)
DI tengah persiapan negosiasi final antara Amerika Serikat dan Iran, laporan intelijen terbaru memicu keraguan serius di internal pemerintahan Presiden Donald Trump. Direktur CIA, John Ratcliffe, dikabarkan menyampaikan peringatan kepada Presiden Trump mengenai ketidaksediaan Iran untuk memberikan konsesi nuklir nan diharapkan AS.
Berdasarkan info dari tiga sumber nan berkawan dengan obrolan tersebut, intelijen nan dikumpulkan oleh badan-badan AS menunjukkan adanya ketidakkonsistenan antara nan disampaikan pejabat Iran kepada mediator dengan pembicaraan internal mereka sendiri. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Teheran tidak beriktikad memenuhi komitmen nuklir dalam kesepakatan final nanti.
Perpecahan di Lingkaran Dalam Trump
Isu ini menciptakan faksi di dalam tim papan atas Trump. Di satu sisi, Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth muncul sebagai golongan skeptis. Mereka meragukan Iran bakal mengambil langkah-langkah nuklir nan diminta AS.
Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance, serta utusan unik Steve Witkoff dan Jared Kushner, justru menjadi pendukung kuat kesepakatan ini. "Presiden Trump mendengarkan semua pendapat, tetapi semua orang memahami bahwa dialah pengambil keputusan akhir," ujar seorang pejabat Gedung Putih.
Poin-Poin Krusial dalam MOU
Meskipun teks komplit dari 14 poin nota kesepahaman (MOU) belum dipublikasikan, beberapa perincian krusial mulai terungkap:
- Selat Hormuz: Iran berkomitmen melakukan upaya terbaik untuk menjamin keamanan lintas kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari. Sebaliknya, AS bakal mencabut blokadenya secara berjenjang dalam 30 hari.
- Dana Beku: AS berkomitmen menyediakan akses penuh terhadap biaya Iran nan dibekukan setelah penerapan MOU, dengan model pay for performance atau pembayaran berasas kinerja/kepatuhan Iran.
- Dana Rekonstruksi: Rencana pembentukan biaya senilai US$300 miliar untuk rekonstruksi ekonomi Iran hanya bakal terealisasi jika Iran membongkar program nuklirnya.
Analisis Risiko: Para kritikus internal beranggapan bahwa Iran bakal mendapatkan untung lebih awal dari MOU ini, sementara kepatuhan mereka terhadap pelucutan nuklir tetap sangat diragukan. Senator Lindsey Graham apalagi mendesak agar arsip kesepakatan segera dibuka kepada publik lantaran ada perbedaan persepsi antara tim negosiasi AS dan klaim pihak Iran.
Negosiasi 60 Hari
Elemen nuklir dalam MOU ini sangat berjuntai pada keberhasilan kedua pihak mencapai kesepakatan mendetail dalam jendela waktu 60 hari ke depan. Jika dalam dua hingga tiga minggu pertama Iran tidak menunjukkan langkah nyata, pejabat senior AS menegaskan bahwa proses ini bisa dihentikan sebelum Iran mendapatkan untung lebih jauh.
Sesuai jadwal, JD Vance, Witkoff, dan Kushner dijadwalkan berjumpa dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pada Jumat (19/6) mendatang untuk memulai fase krusial ini. (Axios/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·