Jakarta -
Kehadiran Rumah Belajar Victory nan digagas Aiptu Jacky Jenifer Galelar di Luminda, Wara Utara, Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel), memberikan faedah bagi masyarakat setempat. Literasi anak-anak semakin meningkat dan aktivitas negatif di lingkungan tersebut semakin menurun.
Atas dedikasinya mendirikan Rumah Belajar Victory, Aiptu Jacky diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Rumah belajar itu dibangun Aiptu Jacky semasa dirinya bekerja sebagai Bhabinkamtibmas. Dia sekarang telah dimutasi ke Sat Intelkam Polres Palopo.
Lurah Luminda, Frangky Lazarus, mengenal Aiptu Jacky sebagai sosok polisi nan humanis. Menurut Frangky, beragam program dilakukan Aiptu Jacky selama bekerja sebagai Bhabinkamtibmas, termasuk pendirian Rumah Belajar Victory.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, tempat-tempat anak muda nongkrong, terus dia ubah menjadi Rumah Belajar Victory," kata Frangky.
Frangky mengatakan masyarakat sangat merasakan faedah dari kehadiran rumah belajar itu. Anak-anak nan biasanya menghabiskan waktu dengan bermain menjadi ikut belajar di tempat tersebut.
"Jadi anak-anak nan pulang sekolah kan tidak ada kegiatannya, daripada mereka pergi bermain ke mana-mana, akhirnya mereka bergabung. Lumayanlah, ada nan di sekolahnya tidak belajar, tidak bisa belajar... apa, membaca, masuk di Victory bolehlah mereka bisa memulai," kata Frangky.
Bagi Frangky, Aiptu Jacky merupakan sosok polisi nan mudah bergaul. Aiptu Jacky disebut kerap membantu penduduk nan mengalami kesulitan.
"Memang wilayah kami di sini ini banyak miras, tempat-tempat miras gitu. Jadi dia sering jalan-jalan ke sana kemari, kontrol-kontrol di wilayah," kata dia.
Kesaksian nan sama juga disampaikan oleh Ketua RT di Luminda, Serly Samsu. Menurut dia, masyarakat, termasuk anak-anak, sangat dekat dengan Aiptu Jacky.
"Kalau ada apa-apa itu dia sigap turun ke masyarakat," kata dia.
Dia mencontohkan ketika ada perselisihan penduduk di wilayahnya. Aiptu Jacky langsung turun tangan untuk memediasi.
"Bagus dia di mata masyarakat. Jadi tidak terkendala. Cepat memperbaikilah jika ada masalah," imbuh Serly.
Serly pun merasa kehilangan saat Aiptu Jacky kudu beranjak tugas ke Polres Palopo. Dia berambisi penggantinya kelak sama baiknya dengan Aiptu Jacky.
"Semoga nan menggantikan bisa menjalankan alias Pak Jecky-nya kembali. Kembali lagi lepas dari Bhabinkamtibmas dia tetap datang. Kita berambisi begitu," kata Serly.
Aiptu Jacky dirikan rumah belajar di Palopo. (Foto: Dok Ist)
Dedikasi Aiptu Jacky
Aiptu Jacky sebelumnya juga merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025. Dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu, Aiptu Jacky menjelaskan rumah belajar awalnya digelar pada masa pandemi Covid-19, sekitar April 2022. Gagasan itu muncul setelah Aiptu Jacky memandang banyak anak nan hanya bermain saat sekolah tetap ditutup lantaran pembatasan Covid-19.
"Jadi berinisiatif agar anak-anak ini juga memperoleh pendidikan. Jadi saya buatlah rumah belajar itu nan awalnya saya didukung adik teman-teman mahasiswa nan sukarela bantu saya untuk bantu mengajar anak-anak," kata Aiptu Jacky. Dia diusulkan dalam program Hoegeng Corner 2025 oleh Polda Sulsel.
Menurut Jacky, anak-anak di lingkungannya condong bebas dan kurang mendapat perhatian. Sementara itu, di wilayah tersebut juga bermunculan warung penjual minuman keras dan arena gambling sabung ayam.
"Banyak aktivitas pertaruhan penyakit masyarakat itu kaya gambling sabung ayam. Nah itu semua nan membikin saya berinisiatif agar anak-anak ini tidak terkontaminasi dengan hal-hal seperti itu," kata Jacky.
Dia kemudian membuka aktivitas rumah belajar untuk meningkatkan literasi anak-anak di sana. Warga pun menyambut antusias aktivitas tersebut.
"Dengan adanya rumah belajar itu rupanya mempunyai perihal nan akibat positif bagi masyarakat sekitar. nan tadinya mereka kebiasaan judi, buka arena pertaruhan sabung ayam. Jadi mereka mulai mundur, sudah mulai lenyap lantaran mereka 'oh ada aktivitas anak-anak'," ujar Jacky.
Jacky juga mengimbau kepada penduduk untuk tidak mempertontonkan perilaku negatif kepada anak-anak. Imbauan ini didukung oleh orang tua dan tokoh masyarakat setempat.
"Dari perihal seperti itu mulailah penyakit nan kaya begitu sudah mulai hilang," ujar Jacky.
Jacky menjelaskan salah satu tempat nan digunakan untuk aktivitas rumah belajar adalah jejak warung miras alias warung ballo. Dia sengaja memakai tempat itu untuk memberikan pesan tegas kepada warga.
"Kenapa saya sengaja kasih ke situ? sengaja mereka saya ajak, agar peminum-peminum itu bisa lihat. Oh ini ada anak-anak, apalagi jika di warung ballo sudah tersedia bangku dan meja," kata Jacky.
Setelah itu, Jacky mencari tempat unik untuk rumah belajar dan menyewanya dengan biaya pribadi. Begitu pun untuk biaya operasional sehari-hari, Jacky menyisihkan duit dari kantong pribadinya.
"Iya gitu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dari pribadi. Kadang waktu Bapak Kapolres beliau pas juga baru menjabat, beliau memandang aktivitas saya beliau support perangkat tulis," imbuh dia.
Adapun para pengajar anak-anak di rumah belajar tersebut ialah Ipda Jacky dan istri, serta relawan dari mahasiswa. Mereka mengajarkan tentang baca tulis hingga pendidikan karakter.
"Siswa kami ada sekitar 30-an," tutur Jacky.
Menurut Jacky, banyak anak di wilayahnya belum bisa membaca dan menulis. Bahkan itu dialami oleh anak nan sudah sekolah SD.
"Akhirnya dengan ada perihal seperti itu dengan membangun rumah belajar,itu kepuasan bagi kami sendiri bahwa mereka sudah bisa mulai membaca sudah mulai bisa menulis," imbuh Jacky.
Lebih lanjut, Jacky menjelaskan argumen rumah belajar dinamai dengan Victory. Penamaan itu tidak terlepas dari kondisi sosial nan ada di wilayah binaannya.
"Lingkungan saya jika mau dikatakan lingkungan keras, di mana nan sebelum-sebelumnya itu banyak tempat warung tradisional warung minuman keras, juga tempat saya dulu itu, sering tempat perkumpulan penyakit masyarakat sabung ayam," ujar Jacky.
"Hal itu kenapa saya namakan Rumah Belajar Victory adalah menang. Nah dengan lingkungan seperti itu, banyak anak-anak nan sudah malah dengan aktivitas belajar, aktivitas sekolah. Karena anak-anak nan saya didik kudu menang dengan lingkungan mereka. Mereka kudu menang dengan lingkungannya. Walaupun lingkungannya seperti itu, mereka punya minat belajar, artinya menang dengan keadaan," sambung dia.
Jacky pun berterima kasih aktivitas negatif di masyarakat itu sekarang sudah menurun. Menurut dia, aktivitas rumah belajar menjadi salah satu penyebab utamanya.
"Itulah dengan adanya aktivitas itu mereka sadar diri, dengan memandang aktivitas anak-anak itu. Mereka sadar diri untuk tidak mempertontonkan hal-hal nan tidak baik kepada anak-anak," kata Jacky.
(knv/lir)
Hoegeng Awards 2026
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·