Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) memperingatkan akibat serius jika wacana penutupan pabrik kelapa sawit (PKS) nan tidak mempunyai kebun betul-betul direalisasikan. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menghantam jutaan petani sawit swadaya di beragam daerah.
Petani sawit swadaya sendiri merupakan golongan pekebun mini nan mengelola lahannya secara mandiri, tanpa terikat kemitraan dengan perusahaan besar. Apkasindo mencatat, dari total 6,87 juta hektare kebun petani, sekitar 93,2% dikelola oleh petani swadaya.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung menegaskan akibat besar nan bisa muncul jika pabrik sawit komersial ditutup.
"Petani swadaya alias petani mandiri, bisa dibayangkan bakal terjadi chaos jika pabrik kelapa sawit komersil betul-betul ditutup," kata Gulat dalam keterangannya, dikutip Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam industri sawit terdapat dua golongan utama petani, ialah petani bermitra, baik plasma maupun swadaya, dan petani swadaya berdikari nan tidak mempunyai ikatan dengan perusahaan.
Menurutnya, keberadaan pabrik kelapa sawit tanpa kebun selama ini justru membantu menjaga keseimbangan pasar tandan buah segar (TBS). Pabrik jenis ini membikin nilai TBS di tingkat petani menjadi lebih kompetitif sekaligus menjaga stabilitas pasokan.
Selain itu, pabrik sawit komersial juga berkedudukan dalam mengurai antrean penjualan TBS. Pasalnya, pabrik konvensional condong memprioritaskan buah dari kebun inti dan mitra plasmanya, sehingga petani berdikari sering kudu menunggu lebih lama.
Lebih jauh, kehadiran pabrik kelapa sawit komersial dinilai mendorong persaingan nan lebih sehat dalam tata niaga sawit dan mencegah kekuasaan pasar oleh segelintir pihak.
"Tidak ada monopoli oleh satu alias dua pabrik. Sekarang ini nan dibutuhkan gimana upaya agar semua pabrik kelapa sawit konvensional mematuhi izin pemerintah khususnya penetapan nilai TBS provinsi," tutur dia.
Gulat apalagi menduga, rumor penutupan pabrik kelapa sawit tanpa kebun sengaja diangkat oleh pihak tertentu nan mau menguasai rantai perdagangan sawit.
Di sisi lain, dia menekankan pabrik sawit komersial juga berkontribusi pada ekonomi wilayah melalui investasi, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan perputaran duit di masyarakat.
Sebagai solusi, Apkasindo mengusulkan pemerintah mewajibkan seluruh pabrik kelapa sawit menjalin kemitraan dengan petani, dengan porsi minimal 20% bahan baku berasal dari TBS petani.
Dengan skema tersebut, pasokan TBS diharapkan lebih terjamin sekaligus memastikan nilai mengikuti ketetapan Dinas Perkebunan di masing-masing daerah.
"Usulan skema kemitraan nan disampaikan Apkasindo menguntungkan semua pihak baik pabrik sawit konvensional, pabrik kelapa sawit komersil, petani sawit swadaya dan plasma, ialah adanya kepastian pasokan TBS," ujar Gulat.
Sebagai catatan, wacana penutupan pabrik kelapa sawit tanpa kebun sekarang tengah bergulir hingga ke pemerintah pusat. Di sisi lain, ada pandangan nan menyebut keberadaan pabrik jenis tersebut memicu persaingan ketat dalam perebutan pasokan TBS di lapangan.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·