
Pemimpin Spiritual Tibet, Dalai Lama. (Foto: X)
JAKARTA - Langkah China nan mau terlibat dalam penentuan Pemimpin Spiritual Tibet, Dalai Lama, berikutnya mendapat kritik. Tekanan Partai Komunis China (PKC) ini juga dinilai ironis lantaran komunisme berasal dari pemikiran Marx nan menganggap "agama adalah candu", tetapi di sisi lain bersikeras untuk mengesahkan reinkarnasi pemimpin spiritual tertinggi Buddhisme Tibet dan menentukan legitimasi sosok tersebut.
Upaya Beijing ini mengenai dengan "Peraturan tentang Pengelolaan Reinkarnasi Buddha Hidup dalam Buddhisme Tibet" nan diterbitkan Pemerintah China pada 2007. Aturan itu mempunyai ketentuan utama nan menyatakan bahwa setiap reinkarnasi Lama (pemimpin spiritual nan dihormati dalam Buddhisme Tibet) kudu mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat. Peraturan ini secara unik ditujukan untuk mengontrol pengakuan terhadap Dalai Lama ke-15 di masa mendatang. Dengan menguasai sistem pengakuan resmi atas reinkarnasi tersebut, PKC berupaya melemahkan pengaruh lembaga Dalai Lama, nan berakibat pada terkikisnya identitas keagamaan dan ikatan budaya rakyat Tibet. Kebijakan ini merupakan bagian dari proyek nan jauh lebih luas: asimilasi budaya dan pembentukan ulang ideologis terhadap Tibet.
Kritikus menyebut patokan ini seperti jika Italia mengumumkan bahwa pemilihan Paus di masa mendatang kudu dilakukan dengan persetujuan Roma, alias jika pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan bakal menentukan siapa nan boleh diangkat menjadi personil Dewan Kardinal. Tindakan semacam itu bakal dianggap sebagai serangan terhadap otonomi keagamaan, apalagi menjadi contoh tindakan pemerintah nan melampaui wewenangnya; ini adalah corak intervensi oleh negara nan ideologi pemerintahannya secara mendasar menolak kepercayaan keyakinan nan menjadi landasan lembaga tersebut.
Pemerintah China berulang kali menyatakan bahwa China menikmati "kebebasan kepercayaan beragama," namun tindakan PKC nan ikut kombinasi dalam penentuan reinkarnasi Dalai Lama tampaknya membantah klaim tersebut. Dalam Buddhisme Tibet, sistem pengakuan lama nan bereinkarnasi bukan sekadar ritual keagamaan; perihal itu merupakan fondasi utama bagi kesinambungan doktrin dan suksesi spiritual. Jika sebuah organisasi keagamaan tidak diberi kewenangan untuk menentukan aspek paling mendasar dari keyakinannya sendiri, maka klaim mengenai kebebasan berakidah menjadi hanya pernyataan semata.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin news lainnya
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·