Industri properti di Indonesia dinilai semakin menarik bagi investor, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan kediaman berkepanjangan dan berbasis inovasi. Sektor ini tidak hanya menjadi bagian dari kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai instrumen investasi jangka panjang nan menawarkan nilai ekonomi dan sosial sekaligus.
Berdasarkan info Realestate Indonesia (REI), sektor properti tetap menjadi salah satu kontributor utama dalam investasi nasional. Realisasi investasi properti tercatat mencapai sekitar Rp 75 triliun pada semester II 2025, tumbuh 3,71 persen (yoy). Diikuti sektor bangunan nan tumbuh di level 4,98 persen (yoy).
Selain itu, sektor properti juga masuk dalam tiga besar penyumbang investasi nasional dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, dengan proyeksi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat dari sekitar 10 persen menjadi 11,5 persen pada 2026. Tingginya pengaruh pengganda (multiplier effect) dari sektor ini, mulai dari industri bahan bangunan, konstruksi, hingga logistik, menjadikannya salah satu motor penggerak ekonomi domestik.
Dari sisi pasar, tren nilai properti residensial juga menunjukkan pertumbuhan, meskipun tetap terbatas. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat tumbuh sekitar 0,83 persen secara tahunan pada akhir 2025, menandakan stabilitas pasar di tengah tekanan ekonomi. Sementara itu, pembelian rumah tetap didominasi oleh skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan porsi lebih dari 74 persen, menunjukkan peran krusial sektor pembiayaan dalam menopang permintaan.
Seiring dengan itu, arah pengembangan properti mulai bergeser. Pelaku industri sekarang mengintegrasikan desain, riset, dan penemuan untuk menghadirkan kediaman nan lebih berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas ruang hidup, tetapi juga menjadi aspek krusial dalam menarik investasi, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Perusahaan kediaman global, Lixil, mendorong kerjasama lintas disiplin antara arsitek, desainer, dan peneliti untuk menciptakan konsep kediaman nan lebih adaptif. Integrasi antara desain, info lingkungan, dan penemuan teknologi dinilai bisa meningkatkan nilai tambah properti sekaligus menjawab tantangan urbanisasi dan perubahan iklim.
“Kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup nan lebih baik. Lanskap arsitektur masa sekarang kudu bisa memberikan kontribusi nan lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional," ujar Marketing Director Lixil Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara.
Founder Adi Purnomo dari Mamostudio, Adi Purnomo, menilai pengembangan properti ke depan perlu semakin berfokus pada rumor keberlanjutan, khususnya mengenai pengelolaan air dan kualitas ruang hidup di area perkotaan. Ia menjelaskan, konsep paviliun Oase lahir sebagai respons atas tantangan tersebut melalui pendekatan nan lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis riset.
Ia menambahkan, perhatian terhadap rumor air menjadi bagian krusial dalam pengembangan kediaman berkelanjutan, mengingat tantangan urban seperti krisis air dan keterbatasan ruang hijau semakin nyata. Konsep Oase nan diusung tidak hanya menghadirkan komponen air dan ruang hijau, tetapi juga menjadi simbol gimana properti dapat dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
“Intinya bukan sekadar membangun ruang, tetapi gimana properti bisa menjadi solusi atas persoalan kota. Pendekatan berbasis penelitian dan kerjasama seperti ini krusial agar kreasi nan dihasilkan betul-betul relevan dengan tantangan nan dihadapi masyarakat,” kata Adi.
Ke depan, tren investasi di sektor properti diperkirakan bakal semakin menguat seiring pemulihan pasar nan mulai terlihat sejak akhir 2025, khususnya di segmen perkantoran, ritel, dan area industri.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·