Oarfish di laut dalam. .(ANTARA/video animalwire)
BADAN Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB mengungkapkan munculnya ikan oarfish nan dikenal sebagai ikan "kiamat" nan ditemukan terdampar di Pantai Pink, Lombok Timur pada Selasa (25/8) merupakan kejadian alamiah dan bukan penanda bencana.
"Terdamparnya oarfish ke wilayah pesisir umumnya dipicu oleh penurunan kondisi bentuk ikan itu sendiri," ujar Kepala Brida Nusa Tenggara Barat (NTB) I Gede Putu Aryadi di Mataram, Rabu (26/8).
Menurut Aryadi, terdapat beberapa aspek biologis nan mendasari kejadian tersebut, di antaranya aspek kesehatan dan usia.
"Ikan nan mengalami penyakit, cedera bentuk seperti patah tulang, alias sudah memasuki usia tua bakal kehilangan keahlian berenang secara optimal," kata Aryadi.
Selain aspek kesehatan, pengaruh arus laut juga menjadi penyebab utama. Ikan nan dalam kondisi lemah tidak lagi bisa melawan arus laut dalam, sehingga perlahan terbawa ke perairan dangkal hingga akhirnya terdampar di pantai.
"Jasad ikan nan tetap kokoh bakal mengapung dan terbawa gelombang hingga ke tepi. Sementara itu, jasad nan meninggal di tengah laut biasanya bakal hancur, selain jika struktur fisiknya tetap cukup kuat untuk memperkuat selama perjalanan migrasi nan panjang," ungkapnya.
Aryadi mengimbau masyarakat agar tidak panik alias menghubungkan kejadian ini dengan mitos hari hariakhir maupun musibah alam besar, seperti gempa NTT.
"Studi ilmiah, termasuk riset dari Jepang, menunjukkan bahwa kebanyakan kasus terdamparnya ikan laut dalam adalah murni kejadian biologis," ujar Aryadi.
Ia mengemukakan aspek lingkungan seperti suhu air laut nan rendah, arah arus, dan kondisi gelombang memegang peranan krusial dalam menentukan apakah buntang ikan bakal sampai ke pantai alias tidak. Peristiwa ini mirip dengan kasus terdamparnya paus di Bima nan kerap terjadi sebagai dinamika alam biasa.
Oleh lantaran itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk menyikapi kejadian ini secara logis dengan merujuk pada riset serta publikasi ilmiah nan valid, bukan percaya pada mitos alias tahayul.
"Jadi, klaim misterius alias langsung menyamakannya dengan musibah perlu diuji melalui penelitian dan pemantauan ilmiah. Jadi itu kejadian biasa saja dan tidak usah dikaitkan dengan ada bencana," katanya.
(Ant/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·