Ibas Ajak Anak Muda Berpikir Kritis & Aktif dalam Hadapi AI-Medsos

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), membujuk anak muda untuk berpikir kritis dan aktif mengambil peran dalam menghadapi perkembangan AI, media sosial, dan dinamika politik di era digital. Ibas juga mengingatkan ancaman filter bubble dan pengaruh algoritma media sosial terhadap langkah masyarakat memperoleh informasi.

Menurutnya, algoritma mempelajari perilaku pengguna berasas apa nan ditonton, disukai, dilewati, dibagikan, apalagi berapa lama sebuah konten dilihat. Kondisi ini membikin pengguna dapat menerima info nan semakin sesuai dengan preferensi mereka.

"Kadang-kadang kita merasa sedang memilih konten. Padahal algoritma juga sedang memilih apa nan bakal kita lihat," kata Ibas dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesan tersebut disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Kebangsaan 'AI, TikTok, dan Politik: Siapa nan Menentukan Masa Depan Indonesia?' di Ruang Abdul Muis, Jakarta, Kamis (3/9) nan lalu.

Persoalan ini dinilai semakin serius ketika sistem mesin masuk ke ranah politik. Algoritma bisa mendikte persepsi masyarakat mengenai pemerintah, kebijakan publik, hingga sosok calon pemimpin.

Karena itu, dia meminta para mahasiswa tidak menelan mentah-mentah setiap info nan bertebaran di bumi maya.

"Viral bukan berfaedah benar. Informasi bisa dibagikan jutaan kali, tetapi tetap bisa salah," ujarnya.

Lulusan S2 Nanyang Technological University ini menilai kerakyatan digital tidak sekadar memerlukan freedom of speech. Masyarakat dituntut mempunyai freedom to think agar sanggup memeriksa data, mendengar perspektif pandang lain, dan berani mengakui kesalahan.

Ibas juga menilai politisi tidak boleh menutup diri dari perkembangan media sosial, termasuk TikTok. Politisi kudu bisa datang di beragam ruang komunikasi publik agar pendapat dan kerja politik dapat diketahui masyarakat.

Namun, dia mengingatkan agar media sosial tidak menjadikan politik sekadar perlombaan mengejar views, likes, dan followers.

"Politisi boleh menjadi kreator. Tetapi politik bukan tentang siapa nan paling viral. Politik adalah tentang siapa nan bisa menawarkan solusi dan bertanggung jawab atas keputusan nan dibuat," kata Ibas.

Menurutnya, tingginya jumlah views tidak otomatis menunjukkan kualitas kepemimpinan. Demikian pula banyaknya followers tidak selalu identik dengan kepercayaan publik.

"Belum tentu views sama dengan leadership. Belum tentu followers sama dengan trust. Konten juga tidak sama dengan kebijakan," ujarnya.

Ibas menegaskan dugaan generasi muda cuek terhadap politik tidak sepenuhnya benar. Ia menuturkan kepedulian anak muda terhadap biaya pendidikan, lapangan pekerjaan, nilai kebutuhan pokok, lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan bangsa merupakan corak kepedulian politik.

"Tidak kudu setiap hari mengikuti sidang parlemen. Ketika kalian peduli terhadap lapangan pekerjaan, pendidikan, lingkungan, nilai kebutuhan sehari-hari, dan keadilan sosial, sesungguhnya kalian sudah melek politik," jelasnya.

Ia membujuk generasi muda mengambil peran lebih aktif dalam proses kerakyatan dan tidak hanya menyampaikan aspirasi melalui media sosial.

"Jangan hanya menjadi penonton demokrasi. Gunakan kanal-kanal kerakyatan nan tersedia untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi," katanya.

Menutup dialog, Ibas menyampaikan tiga pesan kepada generasi muda. Pertama, Think Deep, ialah berpikir secara mendalam, kritis, dan tidak menyerahkan proses berpikir kepada algoritma maupun AI.

Kedua, Participate, ialah aktif menyampaikan pendapat dan aspirasi melalui ruang-ruang demokrasi. Ketiga, Lead, ialah berani mengambil peran dan memimpin dengan keputusan nan didasarkan pada data, pengetahuan, nalar, partisipasi, serta tanggung jawab.

Ibas juga membujuk mahasiswa mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin Indonesia pada 2045.

"Bisa jadi pada 2045, orang-orang nan menjadi pemimpin Indonesia, pengusaha, ilmuwan, hakim, dosen, profesor, personil parlemen, kreator kebijakan, dan developer teknologi adalah kalian," ujarnya.

Sebagai informasi, seminar ini diikuti mahasiswa perwakilan dari Universitas Brawijaya, UIN Syarif Hidayatullah, IPB University, UPN Veteran Jakarta, Universitas Al-Azhar Indonesia, dan Uhamka. Seminar juga diikuti sejumlah personil Fraksi Partai Demokrat DPR RI, ialah Marwan Cik Asan, Rizki Natakusumah, Sabam Sinaga, Bramantyo Suwondo, Hillary Brigitta Lasut, Hasani, dan Zulfikar.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News