Bukan Cuma Software, Nvidia hingga OpenAI Jualan Baju & Laku Keras

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jensen Huang, CEO Nvidia di Korea Selatan. Foto: Kim Soo-Hyeon/REUTERS

Perusahaan teknologi dan kepintaran buatan (AI) mulai memperluas bisnisnya ke bumi fashion. Nvidia, OpenAI, hingga Anthropic sekarang menawarkan busana dan merchandise jenis terbatas nan justru banyak diburu penggemarnya.

Mengutip BBC, Jumat (18/9), Nvidia, perusahaan kreator chip AI asal Amerika Serikat itu menjual beragam merchandise eksklusif, mulai dari kaus, hoodie, sweater dan topi. Produk-produk tersebut biasanya hanya dijual melalui stan pop-up saat konvensi Nvidia alias dalam periode penjualan nan sangat terbatas melalui toko online. Sistem penjualan terbatas tersebut membikin produk Nvidia sigap lenyap terjual.

Salah satu nan menarik perhatian adalah sweater hijau tua bergambar karakter animasi CEO Nvidia Jensen Huang nan dibanderol dengan nilai USD 178.

Natalie Fratto, seorang pendiri startup teknologi di New York nan juga fans Nvidia termasuk orang nan membeli sweater tersebut.

Bagi Natalie Fratto, mengenakan sweater hijau tua milik raksasa chip Amerika Serikat (AS), Nvidia, terasa seperti memakai jersey dari tim olahraga favorit. Ia apalagi dengan bangga mengenakannya dalam video nan diunggah ke media sosial.

"Saya punya jersey rugby New Zealand All Blacks, dan saya menganggap sweater Jensen saya kurang lebih seperti itu," ujar Fratto dikutip dari BBC, Kamis (17/9).

CEO Nvidia Jensen Huang berbincang dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFP

Fenomena ini tidak hanya dilakukan Nvidia. Sejumlah perusahaan teknologi lainnya juga mulai menjual busana bermerek mereka, dengan mengandalkan konsep eksklusivitas.

OpenAI, perusahaan di kembali ChatGPT, misalnya, biasanya hanya menyediakan busana bermerek dari perusahaannya untuk karyawannya. Namun, sesekali produk tersebut dijual untuk umum melalui situs resminya selama beberapa hari.

Sementara itu, Anthropic, perusahaan kreator chatbot Claude, pada tahun lampau membuka warung kopi pop-up sementara di area West Village, Manhattan. Selama satu minggu, visitor bisa mendapatkan topi bisbol cuma-cuma dengan tulisan nan dibordir di bagian depan.

Profesor dari Parsons School of Design di New York, Hazel Clark menilai perusahaan teknologi mulai mengangkat strategi nan umum digunakan industri fashion, salah satunya dengan membatasi jumlah produk nan tersedia.

"Ini merupakan strategi nan sangat umum digunakan beragam merek. Keterbatasan produk membuatnya semakin diinginkan," ujar Hazel.

Hal ini juga terlihat pada perusahaan perangkat lunak AS, Palantir Technologies. Sejak meluncurkan produk pakaiannya tahun lalu, Palantir apalagi mulai menyebut dirinya sebagai lifestyle brand alias merek style hidup.

Kepala Strategic Engagement Palantir, Eliano Younes, mengatakan sebuah lifestyle brand tidak ditentukan dari peralatan nan dijual, melainkan dari nilai nan diwakilinya dan apakah orang mau mengidentifikasikan dirinya dengan merek tersebut.

Menurut Younes, kesuksesan toko dan antusiasme organisasi menunjukkan bahwa strategi tersebut mendapat respons positif. Ia mengatakan investor, pelanggan, karyawan, hingga masyarakat umum dari lebih dari 60 negara telah membeli produk Palantir, termasuk jaket berbahan katun.

CEO OpenAI Sam Altman berbincang selama Konferensi "Tinjauan Terpadu Kerangka Modal untuk Bank-Bank Besar" Dewan Gubernur Federal Reserve AS di Federal Reserve, Washington, DC, pada 22 Juli 2025. Foto: Andrew Harnik/Getty Images/AFP

Salah seorang pembeli produk Palantir di AS, nan tidak mau disebutkan namanya, mengatakan dirinya tertarik membeli merchandise tersebut lantaran kontroversi nan melingkupi perusahaan dan banyaknya orang nan membicarakannya.

Ia apalagi menyebut produk Palantir sebagai corak anti-fashion, lantaran justru menarik perhatian dengan tampil berbeda dari tren fesyen pada umumnya.

Namun, sejumlah pihak menilai penjualan merchandise bergaya tersebut juga bisa menjadi langkah perusahaan untuk membangun persepsi nan lebih positif di tengah beragam kontroversi.

Sementara itu, penulis kitab Tech Agnostic Greg Epstein memandang kejadian merchandise teknologi dari perspektif nan lebih luas. Menurutnya mengenakan merchandise perusahaan teknologi dapat menjadi langkah seseorang menunjukkan bahwa dirinya merupakan bagian dari golongan tertentu. Hal tersebut, khususnya, dapat menarik kalangan di Silicon Valley nan tengah mencari identitas, tujuan, dan rasa kebersamaan.

Fenomena merchandise perusahaan teknologi dan pertahanan ini pun memunculkan respons beragam, mulai dari fans hingga kritik.

Bagi Fratto, kejadian tersebut memang menjadi bagian unik dari tren budaya saat ini. Namun, dia juga menganggap keputusan Nvidia menampilkan wajah Jensen Huang di bagian depan merchandise perusahaan sebagai sesuatu nan kocak dan menarik.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan