Harga Tiket Pesawat di RI Berubah, Pemerintah Siapkan Rumus Baru

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah menyiapkan formula baru untuk penetapan tarif pemisah atas (TBA) tiket pesawat. Aturan anyar tersebut bakal diterapkan setelah nilai avtur dinilai turun dan berada dalam kondisi nan lebih stabil.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, pembahasan formula baru TBA telah rampung. Namun, pemerintah tetap menunggu momentum nan tepat untuk mulai memberlakukannya.

"Sudah dirumuskan, mungkin pada saatnya kelak ketika sudah stabil maka bakal diterapkan TBA dengan formula terbaru," kata Dudy dalam media briefing di Jakarta, Jumat (26/6) kemarin.

Menurutnya, patokan TBA nan bertindak saat ini sudah tidak lagi mencerminkan kondisi industri penerbangan. Pasalnya, ketentuan tersebut terakhir disusun pada 2019, ketika kurs rupiah tetap berada di kisaran Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dan nilai avtur sekitar Rp10.000 per liter.

Kini, situasinya berubah signifikan. Kemenhub mencatat nilai avtur telah menyentuh sekitar Rp26.000 per liter, sementara nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Perubahan itu dinilai menjadi argumen kuat untuk menyesuaikan kembali formula tarif pemisah atas.

"Kita memandang sekarang nilai minyak bumi sudah mulai menurun. Apabila kondisi geopolitik bumi sudah mulai membaik maka kami bakal memberlakukan TBA terbaru," ujarnya.

Adapun saat formula baru TBA mulai diberlakukan, lanjut Dudy, pemerintah berencana menghapus komponen fuel surcharge nan saat ini ditetapkan sebesar 38%. Selama ini, komponen tersebut diberlakukan sebagai sistem penyesuaian biaya operasional maskapai di tengah lonjakan nilai bahan bakar.

"Fuel surcharge itu lebih menjawab kebutuhan maskapai, makanya kami belum menyentuh TBA lantaran nan paling dominan adalah fuel surcharge," ucap dia.

Meski demikian, dia menegaskan, pemerintah tetap membuka kemungkinan untuk mengaktifkan kembali fuel surcharge andaikan kondisi tertentu membikin kebijakan tersebut kembali diperlukan.

Di sisi lain, pemerintah berambisi nilai avtur dapat terus menurun sehingga keseimbangan antara kepentingan maskapai dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

"Keseimbangan ini penting, kami tidak mau terlalu memaksakan (harga) turun lampau membikin posisi maskapai tidak nyaman sehingga (bisnisnya) tidak jalan alias collapse," katanya.

Ia mengingatkan, tekanan berlebihan terhadap tarif maskapai justru bisa memicu akibat nan lebih besar, mulai dari terganggunya keberlangsungan upaya maskapai hingga berkurangnya jumlah armada nan beroperasi. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi membikin nilai tiket pesawat kembali melonjak akibat terbatasnya pasokan penerbangan.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News