Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun(Dok Istimewa )
KETUA Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun memahami kekhawatiran masyarakat atas penyesuaian nilai BBM nonsubsidi jenis Pertamax nan mulai bertindak pada Rabu (10/6). Namun menurutnya, kebijakan tersebut perlu dilihat secara utuh dalam konteks tekanan ekonomi dunia nan tetap berlangsung.
“Sebagai wakil rakyat, saya memahami bahwa kenaikan nilai BBM selalu menimbulkan beban bagi masyarakat. Karena itu, kebijakan ini kudu dipahami bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang,” kata Misbakhun dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (11/6).
Misbakhun menjelaskan bahwa keputusan penyesuaian harga Pertamax tidak terlepas dari beragam aspek eksternal, mulai dari kenaikan nilai minyak dunia, tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, hingga meningkatnya biaya penyediaan daya nasional.
Misbakhun mengatakan, Komisi XI DPR RI terus memantau akibat penyesuaian nilai BBM terhadap masyarakat dan perekonomian nasional. Menurutnya, komunikasi dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemangku kepentingan mengenai terus dilakukan untuk memastikan akibat kebijakan dapat diminimalkan.
“DPR tidak hanya memandang sisi fiskalnya, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat. Karena itu kami mendorong agar langkah penyesuaian ini diikuti kebijakan mitigasi nan terukur untuk menjaga daya beli dan mengendalikan inflasi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa beragam opsi stimulus dan insentif saat ini sedang dibahas untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
Di samping itu, Misbakhun menilai beragam langkah stabilisasi nan dilakukan otoritas ekonomi mulai memberikan sinyal positif terhadap pasar keuangan. Salah satunya melalui keputusan Bank Indonesia nan meningkatkan suku kembang referensi sebesar 25 pedoman poin menjadi 5,50% guna menjaga stabilitas Rupiah dan mengendalikan tekanan eksternal.
Menurutnya, pasar mulai merespons secara positif. Nilai tukar Rupiah nan sebelumnya mengalami tekanan mulai bergerak membaik, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat penguatan dalam beberapa hari perdagangan terakhir.
“Kita tentu belum bisa menyimpulkan situasi sepenuhnya pulih. Namun beberapa parameter mulai menunjukkan bahwa langkah-langkah stabilisasi nan dilakukan pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas finansial berada pada jalur nan tepat,” pungkasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·