Berteknologi AI, Satelit YAM-9 Bisa Cari Objek di Bumi Lewat Perintah Teks

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Berteknologi AI, Satelit YAM-9 Bisa Cari Objek di Bumi Lewat Perintah Teks Ilustrasi Satelit YAM-9.(Loft Orbit)

TEKNOLOGI penginderaan jauh luar angkasa mencatatkan sejarah baru setelah satelit YAM-9 sukses mengidentifikasi dan mendeskripsikan beragam objek di permukaan Bumi secara berdikari tanpa support kajian dari darat. 

Pencapaian ini menandai pertama kalinya model kepintaran buatan (AI) nan bisa memahami bahasa sekaligus membaca gambar dioperasikan langsung di luar angkasa. Pengoperasian satelit nan sebelumnya memerlukan penulisan urutan perintah rumit sekarang disederhanakan hanya dengan memasukkan perintah teks sederhana dalam bahasa sehari-hari.

Satelit YAM-9 dikembangkan oleh perusahaan antariksa Loft Orbital dan meluncur pada musim gugur 2025 sebagai wahana uji coba proyek AI luar angkasa. Satelit ini menjadi platform bagi sistem NAVI-Orbital, sebuah perangkat lunak hasil kerjasama antara Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA dan Loft Orbital. 

Di dalam satelit tersebut, tertanam kartu skematis Nvidia Jetson Orin AGX serta model vision-language Gemma 3 buatan Google DeepMind. Model ini dirancang cukup ringkas untuk memproses teks dan gambar secara simultan di perangkat keras berkapasitas terbatas jauh dari pusat data.

Sistem NAVI-Orbital dirancang dengan arsitektur multi-agen nan terdiri dari tiga modul, ialah pengoordinasi tugas, peneliti gambar, dan pemasok perbincangan nan menjawab pertanyaan operator. 

Dalam uji coba orbital pertama nan berjalan pada April lalu, model ini sukses mengklasifikasikan info sensorik, mulai dari pemetaan wilayah pemukiman, lahan pertanian, pantai, pegunungan, hingga prasarana di sekitar hub kereta api. Pengujian darat terhadap 7.960 gambar sebelumnya juga mencatatkan tingkat kecermatan pengelompokkan mencapai 88,2 persen.

Penerapan AI langsung di orbit diprediksi bakal merevolusi pasar industri antariksa dengan memangkas lonjakan info mentah nan biasanya kudu dikirim ke Bumi untuk dianalisis. Untuk dapat memantau seluruh wilayah Bumi secara real-time, bakal dibutuhkan konstelasi sekitar 50 hingga 100 satelit sejenis YAM-9.

 "AI ini betul-betul 'melihat' apa nan ada di dalam gambar dan mengidentifikasi secara tepat apa nan dicari oleh analis—jembatan, jalan raya, perairan tertentu, alias tanda-tanda musibah alam," kata Sarah Preston, manajer pemasaran senior di Loft Orbital. 

Pengembangan teknologi ini juga membuka kesempatan pemantauan Bumi secara real-time. Kepala AI Loft Orbital, Paul Lasser, menyamakan keahlian ini seperti patroli konstan dari luar angkasa di mana satelit hanya bakal mengirimkan info ketika menemukan kriteria nan dicari, seperti tumpahan minyak, pembangunan di perbatasan, alias tanda-tanda banjir dan kebakaran hutan. 

Selain pemantauan Bumi, teknologi NAVI-Orbital dirancang untuk misi eksplorasi masa depan ke Bulan dan Mars. Gagasan awal proyek ini muncul saat peneliti JPL, Juan Delfa Victoria dan Taran Cyriac John, memikirkan asisten digital untuk astronot. 

Dalam kondisi mengenakan baju ruang angkasa bertekanan tinggi nan tidak memungkinkan mengetik di papan ketik, astronot dapat memberikan perintah bunyi langsung kepada asisten AI interaktif nan mendampingi misi mereka. 

Meski keandalan sistem terhadap serangan perintah rawan tetap perlu diteliti lebih lanjut, tim developer optimistis sistem AI orbital ini bakal segera menjadi standar baru bagi platform luar angkasa. (Sumber: Universe Space Tech, Warp News/P-3) 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia