Harga Minyak Tembus USD 100 per Barel Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Orang-orang berdiri di tengah reruntuhan gedung Universitas Teknologi Sharif, nan rusak akibat serangan, di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, Selasa (7/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Harga minyak melonjak menembus USD 100 per barel pada Senin (13/4), seiring Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) bersiap memblokade Selat Hormuz setelah negosiasi antara AS dan Iran kandas mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Mengutip Reuters, perjanjian berjangka minyak Brent naik USD 7,11 alias 7,47 persen menjadi USD 102,31 per barel pada pukul 22.04 GMT, setelah sebelumnya ditutup melemah 0,75 persen pada Jumat (10/4).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level USD 104,43 per barel, naik USD 7,86 alias 8,14 persen, setelah sempat turun 1,33 persen pada sesi sebelumnya.

Kepala riset daya MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan pasar sekarang pada dasarnya kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, tetapi dengan tambahan tekanan lantaran AS berencana memblokir aliran minyak mengenai Iran hingga sekitar 2 juta barel per hari melalui Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4), menyatakan Angkatan Laut AS bakal mulai melakukan blokade di Selat Hormuz, meningkatkan ketegangan setelah perundingan panjang dengan Iran kandas menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang, sekaligus menakut-nakuti keberlangsungan gencatan senjata dua minggu nan rapuh.

Trump juga mengakui nilai minyak dan bensin berpotensi tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu pada November, sebagai akibat dari keputusan menyerang Iran enam pekan lalu.

Kemudian, Komando Pusat AS menyatakan pasukannya bakal mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lampau lintas maritim nan masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai pukul 10.00 waktu setempat pada Senin (13/4).

Analis ANZ, Brian Martin dan Daniel Hynes, menyebut langkah ini tidak hanya membatasi ekspor dari produsen minyak di Teluk Persia, tetapi juga menghalang keahlian Iran untuk mengekspor minyak, sehingga memperparah gangguan pasokan nan sedang terjadi di pasar. Sementara itu, analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai langkah tersebut secara efektif bakal menghalang aliran minyak Iran dan memaksa sekutu serta pengguna Teheran untuk menekan agar jalur pelayaran tersebut kembali dibuka.

instagram embed

Di sisi lain Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer nan mencoba mendekati Selat Hormuz bakal dianggap melanggar gencatan senjata dua minggu dengan AS dan bakal ditindak secara tegas.

Meski situasi tetap buntu, info pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker super bermuatan penuh minyak sukses melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/4), menjadi kapal pertama nan keluar dari area Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata pekan lalu. Namun pada Senin (13/4), tidak ada kapal lain nan terpantau melintas, selain satu kapal berbendera Iran nan tetap berlabuh di wilayah tersebut, berasas info LSEG.

Sementara itu, Arab Saudi pada Minggu (12/4) menyatakan telah memulihkan kapabilitas penuh penyaluran minyak melalui pipa East-West hingga sekitar 7 juta barel per hari, beberapa hari setelah melakukan penilaian kerusakan pada sektor energinya akibat serangan selama perang Iran.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan