Jakarta -
Harga minyak nan terus melonjak mulai mengubah kebiasaan shopping masyarakat Amerika Serikat. Warga sekarang terlihat lebih berhati-hati membelanjakan uangnya lantaran sebagian anggaran tersedot untuk kebutuhan energi, terutama bensin.
Berdasarkan laporan info Departemen Perdagangan AS, nan dikutip CNN, Jumat (15/5/2026), penjualan ritel AS pada April 2026 naik 0,5% dibanding bulan sebelumnya. Namun, kenaikan itu melambat dibanding Maret nan sempat tumbuh 1,6%. Angka tersebut juga sedikit di bawah proyeksi ahli ekonomi sebesar 0,6%.
Kenaikan pengeluaran paling besar terjadi di SPBU. Di sisi lain, sejumlah sektor non-esensial mulai melemah. Penjualan furnitur turun 2%, dealer mobil turun 0,5%, department store ambruk 3,2%, dan toko busana turun 1,5%. Kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai mengurangi shopping nan tidak terlalu penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan nilai daya nan dipicu bentrok Iran dan Amerika Serikat-Israel diketahui turut mendorong kenaikan nilai bensin. Akibatnya, daya beli masyarakat mulai tertekan meski pasar tenaga kerja AS tetap cukup kuat.
Meski begitu, masyarakat AS sejauh ini tetap tetap berbelanja. Pasar tenaga kerja nan solid membantu menopang konsumsi rumah tangga di tengah sentimen konsumen nan sedang melemah akibat perang dan inflasi.
(eds/hal)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·