Tembus Pasar Perikanan Eropa, Ikan Nila Jadi Andalan Baru Indonesia

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) menegaskan ikan nila alias disebut juga tilapia sekarang menjadi komoditas jagoan baru ekspor perikanan Indonesia, khususnya untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa.

Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP, Erwin Dwiyana mengungkapkan bahwa ikan tilapia menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen global. Ikan tilapia dikenal sebagai Chicken of The Sea lantaran mempunyai rasa nan ringan (mild) dan mudah diolah dengan kandungan protein tinggi mencapai 20 - 29 gram per 100 gram sajian.

Selain itu, tilapia rendah lemak jenuh serta mengandung Omega-3, 6, 9, vitamin B12, dan mineral berfaedah lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita nan zero penolakan. Kami memandang standar dunia sangat krusial diperhatikan. Mulai dari persyaratan wajib seperti GMP-SSOP, HACCP, Health Certificate, dan Nomor Registrasi, dan diperkuat sertifikasi buyer-driven seperti GLOBALG.A.P., ISO 22000, SQF, BAP, ASC dan BRC, semuanya dilengkapi oleh seluruh eksportir kita sehingga pasar percaya dengan produk kita," ucap Erwin, dalam keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).

Erwin menuturkan perihal tersebut pada Kamis (14/5). Menurut Erwin, kelengkapan sertifikasi menjadi kunci utama kepercayaan pasar internasional terhadap produk perikanan Indonesia sehingga tilapia asal Indonesia diterima dengan baik tanpa adanya penolakan di negara tujuan ekspor.

Berkat penerapan standar sertifikasi nan ketat tersebut, Regal Springs Indonesia sebagai salah satu produsen utama ikan tilapia di Indonesia sukses mencatatkan pencapaian signifikan di pasar internasional. Perusahaan ini sukses memasok jaringan pub terkemuka di Inggris berjulukan Greene King.

Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra mengungkapkan bahwa keberhasilan menembus pasar Eropa tidak terlepas dari terpenuhinya 37 sertifikasi nan salah satunya adalah Aquaculture Stewardship Council (ASC).

"Dengan adanya ASC ini maka budidaya perikanan Indonesia dituntut untuk bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga proses menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan. Transformasi ini memastikan bahwa tilapia Indonesia tidak hanya berbobot tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan," terangnya.

Di Inggris, tilapia sukses diolah menjadi menu fish and chip hingga hidangan boneless nan memberikan pengalaman fine dining berbobot tinggi dengan tingkat keluhan konsumen nan sangat rendah.

Selain itu, dari segi harga, ikan ini sangat kompetitif dibandingkan dengan jenis ikan putih lainnya sehingga bisa merebut pangsa pasar nan sebelumnya didominasi oleh jenis whitefish nan lebih mapan seperti ikan kod dan ikan trout.

Selain mendorong ekspor tilapia premium, KKP sendiri terus mendorong produktivitas budidaya tilapia jenis nila melalui sejumlah program prioritas. Di antaranya program Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) Karawang dan revitalisasi tambak Pantura.

Revitalisasi ini bermaksud untuk meningkatkan kapabilitas produksi nila nasional sekaligus memastikan bahwa seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional nan berlaku.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa sistem budidaya nan terukur, berkelanjutan, dan bisa dikelola sepanjang tahun tanpa berjuntai pada musim alias pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan bisa menawarkan solusi konkret untuk mencapai ketahanan pangan nasional secara berdikari dan berdaulat.


(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance