Jakarta -
Nilai tukar Rupiah tetap belum berkekuatan untuk membalikkan tekanan dari Dolar Amerika Serikat. Sampai saat ini nilai tukar sudah tembus rekor sepanjang di level Rp 17.500. Bahkan, Rupiah dirasa susah untuk kembali pada keadaan normal.
Yang jadi masalah adalah, nilai tukar Rupiah nan melemah dapat berakibat langsung kepada masyarakat. Dompet-dompet penduduk Indonesia bisa terkuras lantaran kenaikan nilai dan akibat lainnya.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan akibat paling besar dari nilai tukar nan terus melemah adalah inflasi nan tak terelakkan. Sebab, Indonesia sejauh ini tetap cukup banyak melakukan impor beragam produk kebutuhan harian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampaknya adalah, inflasi dari impor bakal mulai naik ke depan terutama akibat biaya pengedaran naik, nilai peralatan naik. Imported inflation bakal terjadi, terutama untuk peralatan nan mengenai impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi," ujar Huda ketika dihubungi detikcom, Jumat (15/5/2026).
Huda memprediksi bakal ada kenaikan nilai dalam 2-3 bulan ke depan. Dia menyatakan nan sudah mulai terlihat adalah plastik karena bahan bakunya saat ini langka, distribusinya mahal, dan ketika mendapat eksportir nan produknya bisa diimpor harganya naik lantaran Rupiah nilainya sangat lemah.
Pelemahan nilai plastik bukan hanya kejadian biasa, pasalnya banyak barang-barang nan menggunakan plastik juga bakal meningkat harganya. Misalnya saja, minyak goreng dalam bungkusan nan sudah mulai meningkat harganya.
"Jadi akibat dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena akibat negatif," sebut Huda.
Senada dengan Huda, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan Indonesia juga tetap banyak mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, sampai bahan baku industri. Ketika nilai tukar Rupiah melemah, biaya masuk barang-barang tersebut juga ikut naik.
"Dampaknya pelan-pelan terasa di nilai makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga," ujar Rendy kepada detikcom.
Kelas Menengah Terpukul
Rendy melanjutkan kelas menengah juga bakal tertekan. Kelas menengah nan mengkonsumsi peralatan lebih banyak daripada sekadar kebutuhan hidup bakal merasakan kenaikan nilai nan pesat. Nilai tukar rupiah nan melemah dapat meningkatkan nilai gadget, peralatan elektronik, kosmetik impor, langganan jasa digital, sampai biaya sekolah dan kuliah luar negeri ikut naik.
Dia mengatakan orang-orang bakal menekan pesat ruang belanjanya. Pembelian hanya dilakukan untuk nan penting-penting saja. Akhirnya banyak orang nan merasakan penghasilannya tak lagi mencukupi hidupnya.
"Orang mungkin tetap bisa membeli, tetapi ruang belanjanya jadi lebih sempit. Ini nan kemudian membikin banyak orang merasa penghasilannya tidak sejauh dulu," ujar Rendy.
Melemahnya nilai tukar juga berpotensi membikin nilai transportasi makin mahal. Tiket pesawat misalnya, apalagi untuk penerbangan domestik nampaknya nilai nan dipatok bakal susah dijangkau.
"Sebagian besar biaya maskapai berbasis Dolar, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai perawatan mesin. Jadi ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis naik," ujar Rendy.
Namun segelintir orang, kata Rendy, bisa mengambil untung dari nilai tukar Rupiah nan melemah. Misalnya saja, pekerja migran nan mendapatkan duit dari luar negeri biasanya bakal mendapatkan nominal lebih besar ketika penghasilannya ditukar dalam Rupiah.
Kemudian, para eksportir komoditas, baik skala mini maupun besar, mulai dari komoditas kelapa sawit, kopi, alias perikanan juga relatif terbantu. Karena pendapatannya berbasis Dolar sementara sebagian besar biayanya Rupiah.
Namun begitu, Rendy tetap menekankan nilai Rupiah nan melemah dampaknya lebih banyak jelek kepada masyarakat Indonesia.
"Tapi secara umum, untuk kebanyakan masyarakat, Rupiah nan terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya," tegas Rendy.
(hal/eds)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·