Gema Musik dan Lantai Dansa di Parijs van Java

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Gedung Meredeka nan dulunya berjulukan Sociëteit Concordia di Bandung. Sumber: https://www.instagram.com/bdg.sonata/

Bandung pada awal abad ke-20 bukanlah sekadar kota nan sejuk di dataran tinggi Priangan, melainkan sebuah panggung kemewahan kosmopolitan Eropa nan begitu gemerlap hingga menyandang julukan legendaris Parijs van Java. Di kembali tata kota nan rapi dan udara nan bersih, sebuah tren modernitas datang dan menjadi simbol pamor sosial tertinggi kaum elite kolonial, ialah budaya dansa.

Bagi mereka, berjoget bukan hanya urusan menggerakkan tubuh mengikuti irama musik, melainkan sebuah ritual malam nan sakral untuk menegaskan pemisah kelas, identitas, sekaligus pamer kekuasaan antara sang kolonialis dan tanah jajahan.

Semua kemewahan ini bermulai dari tumbuh suburnya klub-klub sosial eksklusif alias Sociëteit, dengan Sociëteit Concordia nan sekarang menjadi Gedung Merdeka sebagai jantung utamanya.

Sejarawan Budiman (2017) dalam penelitiannya Modernisasi dan Terbentuknya Gaya Hidup Elit Eropa di Bragaweg (1894-1949) menggambarkan sungguh padatnya agenda bersenang-senang para personil klub ini, di mana hari Sabtu dimulai dengan konser orkes klasik, dilanjutkan bersosialisasi hingga sore, lampau bersulang minuman keras sebelum lantai dansa dibuka hingga larut malam. Uniknya, pada hari Minggu, aula mewah nan sama disulap menjadi arena bermain sepatu roda demi melengkapi rangkaian intermezo mingguan mereka.

Di bawah pendar lampu kristal nan mewah dan di atas lantai kayu nan mengilap, aliran musik seperti Waltz, Fox-trot, dan Tango menjadi bahasa tubuh kelas atas Belanda.

Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe melukiskan suasana ini sebagai parade busana malam mewah unik Eropa, jas ekor, wewangian mahal, dan sepatu kulit mengilap nan menjadi pagelaran status sosial tertinggi.

Atmosfer kegemerlapan ini didukung penuh oleh area Bragaweg melalui toko-toko mode kelas atas nan mendatangkan tren busana langsung dari Paris. Seperti nan ditegaskan oleh Voskuil dalam Bandoeng: Beeld van een stad, intermezo malam di Bandung sebenarnya adalah langkah orang-orang Belanda mereplikasi kemewahan tanah air mereka di ruang kolonial.

Namun, budaya dansa tidaklah tetap lantaran memasuki era 1920-an hingga 1930-an, irama Jazz nan bebas dan bergerak mulai masuk dari Amerika Serikat melalui hotel-hotel mewah seperti Grand Hotel Preanger dan Savoy Homann. Kehadiran Jazz pelan-pelan menggeser kekakuan musik klasik dan membikin suasana pesta menjadi lebih ekspresif, sehingga pemisah sosial nan kaku mulai sedikit melunak dan mulai memberi ruang bagi segelintir kaum bumiputera berilmu alias golongan bangsawan untuk ikut berbaur.

Dansa pun menjelma menjadi industri urban nan mapan, di mana sekolah dansa menjamur dan surat berita De Preangerbode kerap memuat iklan Dansavond atau malam dansa romantis, membikin Bandung seolah hidup dua kali; sibuk dengan urusan ekonomi di siang hari, dan menyala oleh gesekan biola serta dentum musik di malam hari.

Arsip surat berita De Preangerbode (16 September 1922) nan memuat iklan "Malam Dansa / Dansavond"

Kehadiran budaya Barat ini tentu memicu polarisasi di tengah masyarakat lokal. Di satu sisi, para intelektual muda seperti mahasiswa Technische Hoogeschool nan sekarang menjadi ITB memandang dansa sebagai simbol kemajuan dan keterbukaan budaya. Di sisi lain, kalangan religius dan masyarakat tradisional menolaknya lantaran dianggap terlalu bebas dan tidak sesuai dengan budaya ketimuran.

Sastrawan M. A. Salmun apalagi mencatat gimana pemuda Bandung meniru style berjoget Barat sebagai corak pelarian dari kekangan tradisi mereka sendiri, nan sekaligus menegaskan sungguh kuatnya hegemoni budaya kolonial di kota ini.

Setiap pesta pasti usai, dan menjelang akhir kekuasaan kolonial Belanda tepat sebelum kehadiran Jepang pada 1942, budaya dansa di Bandung mencapai titik puncak sekaligus masa paling muramnya. Pesta-pesta di Sociëteit Concordia pada periode ini sering disebut sebagai pesta terakhir nan terasa megah namun diselimuti keputusasaan.

Dalam kitab Dutch Culture Overseas, Frances Gouda menggambarkan atmosfer dansa pada masa kritis ini sebagai pelarian emosional ketika bayang-bayang perang dan tumbangnya kekuasaan sudah di depan mata, membikin orang-orang berjoget dengan liar seolah hari besok tidak bakal pernah datang lagi.

Secara retrospektif, sejarah dansa di Bandung adalah cermin pertemuan budaya nan rumit lantaran di satu sisi memancarkan kemewahan Eropa, namun di sisi lain menyingkap jarak sosial dan politik kolonial nan menganga.

Setelah Indonesia merdeka, budaya dansa Barat sempat meredup akibat sentimen anti-Barat nan kuat, namun jejaknya tidak pernah betul-betul lenyap lantaran tertinggal dalam arsitektur gedung pertunjukan, memori family Indo-Belanda, serta nostalgia penduduk kota. Bandung tidak hanya menjadi tempat berdirinya gedung dansa, melainkan ruang perjumpaan musik, tubuh, dan kekuasaan nan ikut membentuk identitas urban modern di Indonesia.

Hingga hari ini, kemandang masa lampau itu tetap terasa melalui konser, pagelaran musik, hingga ballroom modern di Bandung nan tetap mewarisi atmosfer sebuah kota nan terbiasa merayakan malam.

Julukan Parijs van Java kini tidak lagi merujuk pada kekuasaan kolonial, melainkan pada keanggunan sebuah kota nan sejak dulu dekat dengan seni, mode, dan lantai dansa. Sejarah ini memberi Bandung karakter sebagai kota nan terbuka terhadap perubahan, memikat dalam estetika, dan selalu mempunyai keahlian misterius untuk mengubah ruang melalui musik.

Pada akhirnya, Bandung dan dansa adalah kisah tentang tubuh, kelas, budaya, dan ingatan. Sebuah warisan kosmopolitan nan lahir di tengah ketidaksetaraan kolonial, namun meninggalkan siluet nan hingga sekarang tetap terpatri dalam degub urban kota Priangan ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan