Merek kendaraan baru nan coba peruntungan di pasar otomotif Indonesia tak hanya sekadar menghadapi persaingan produk, melainkan juga membangun jasa purna jual dan relasi dengan konsumennya.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menyoroti bahwa kesiapan jasa purna jual nan solid merupakan tembok utama bagi keberlangsungan merek baru di dalam negeri.
Tanpa kesiapan jaringan servis dan suku cadang nan matang, kehadiran produk baru hanya bakal menciptakan persepsi negatif di mata konsumen. Hal tersebut juga diamini seperti pabrikan Geely Auto.
Sales and Channel Development Director Geely Auto Indonesia, Constantinus Herlijoso tak menampik kesiapan tenaga pemasar dan teknisi di lapangan menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi merek baru.
"Dan sebenarnya salah satu PR nan cukup besar adalah kesiapan manpower. Karena kesiapan manpower ini bagaimanapun juga kita butuh kesamaan bahasa, kesamaan penyampaian dari teman-teman baik di sales maupun di service mengenai dengan isu-isu nan ada," kata Herlijoso ditemui di Jakarta pekan ini.
Herlijoso juga memahami dinamika bahwa tidak sedikit tenaga penjual nan sebagian tetap berfokus pada sasaran transaksi tanpa ikut membangun dan membentuk kualitas jasa purna jual bagi konsumen.
"Memang ada, terutama lantaran kita merek baru, kemudian ada beberapa sales nan tetap sangat polos, tetap baru, mereka tetap orientasinya hanya menjual tapi mereka lupa bahwa hubungan jangka panjang dengan pengguna itu ada setelah penjualan," terangnya.
Dirinya menegaskan pentingnya membangun dan membentuk sistem dari hulu ke hilir mengenai pentingnya menjaga kepuasan pengguna secara berkesinambungan untuk ditanamkan kepada seluruh jejeran garda terdepan Geely.
"Sehingga itu nan kita juga kudu develop ke mereka dan pengguna itu boleh dibilang pengguna seumur hidup. Sehingga kita kudu bisa melayani pengguna itu bukan hanya pada saat sebelum penjualan," tutur Herlijoso.
Guna memastikan standar pelayanan nan merata, diakui Herlijoso bahwa pihaknya telah melakukan training rutin nan tidak hanya berfokus pada keahlian menjual, melainkan mencakup pemahaman proses upaya secara menyeluruh.
"Ya, kami secara rutin melakukan training bukan hanya untuk selling skill tapi ada soft skill nan lain termasuk the whole business process dan sedikit introduction mengenai dengan after sales juga," ucapnya.
"Sehingga diharapkan mereka bakal punya keahlian nan seragam. Saat ini sebenarnya Geely mempunyai training center unik nan sudah disiapkan dan sudah beraksi dan sudah ada beberapa batch," kata Herlijoso.
Selain konsentrasi pada peningkatan kapabilitas keahlian dan keahlian SDM, Geely Indonesia turut memperketat kehati-hatian dalam setiap proses transaksi demi mencegah terjadinya potensi kecurangan di tingkat diler.
"Untuk menghindari perihal tersebut, tentu saja kami pun juga sudah mengomunikasikan kepada pengguna dan prospek kami mengenai dengan kehati-hatian prudensi terhadap transaksi nan terjadi," sambungnya.
"Kami pun juga berupaya mengingatkan rekan-rekan diler semua jaringan kami untuk bisa bukan hanya mengenal pelanggannya tapi mengenal sales-nya sendiri. Sehingga jika terjadi sesuatu kita lebih mudah untuk mengontak mereka kembali," tandas Herlijoso.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·