Opini
, Jurnalis-Minggu, 10 Mei 2026 |10:30 WIB

Bustomi, Nahdliyin, Santri Jalanan
Bustomi, Nahdliyin, Santri Jalanan
Di banyak lembaga keagamaan khususnya pesantren, ustad selama ini ditempatkan bukan sekadar sebagai guru, tetapi figur nan nyaris tak tersentuh kritik. Relasi kuasa itulah nan kerap menjadi ruang gelap lahirnya kasus kekerasan seksual terhadap santri(wati).
Publik kembali diingatkan bahwa di kembali jubah religius, ada kemungkinan penyalahgunaan otoritas nan berjalan bertahun-tahun tanpa kontrol.
Dalam konteks itu, publik ramai membicarakan sosok Ashari, figur nan disebut-sebut mempunyai kedekatan dengan golongan “parcok”. Ia disebut bukan orang biasa. Dalam sejumlah cerita nan beredar, Ashari apalagi dianggap mempunyai pengaruh spiritual dan menjadi tempat belajar pengetahuan kanuragan bagi sebagian personil golongan tersebut. Posisi itu membuatnya tampak kuat, terlindungi, apalagi susah disentuh.
Namun relasi semacam itu sering kali berkarakter transaksional. Ketika seseorang tetap dianggap berguna, dia dipertahankan. Tetapi ketika kelemahan, skandal, alias “penyakit”-nya mulai dipahami oleh lingkaran kekuasaan di sekitarnya, nasibnya bisa berubah cepat.
Dalam narasi nan beredar di masyarakat, “komandan parcok” disebut akhirnya mengetahui sisi gelap Ashari. Dan ketika momentum berubah, Ashari pun dianggap tak lagi dibutuhkan.
Fenomena ini memperlihatkan satu perihal krusial bahwa kekuasaan nan dibangun di atas kultus, ketakutan, dan jejaring informal sangat mudah runtuh ketika rahasia mulai terbuka.
Kasus-kasus kekerasan seksual nan melibatkan tokoh kepercayaan beberapa tahun terakhir juga menunjukkan pola serupa. Ada relasi kuasa nan timpang, ada pengikut nan diam, ada lingkungan nan memilih melindungi nama besar lembaga daripada korban.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin news lainnya
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·