El Nino Bikin Bendungan Susut, Pasokan Air ke PLTA Terancam

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Situasi PLTA Cirata, satu-satunya PLTA bawah tanah (underground) di Indonesia. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan kekeringan lantaran kejadian El Nino menyebabkan permukaan waduk menyusut, nan menakut-nakuti pasokan air untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, menyebut terdapat 250 waduk nan tersebar di Indonesia. Sebagai prasarana penyediaan air, waduk tidak hanya berfaedah untuk irigasi, namun juga berkedudukan sebagai pengendalian banjir, air baku, apalagi untuk wisata dan pembangkit listrik.

Diana mencontohkan Bendungan Meninting di Lombok Barat, NTB, nan bisa menampung air 12,18 juta meter kubik. Hanya saja saat musim tandus seperti saat ini, permukaan airnya menurun.

"Walaupun sekarang pada musim tandus ini agak turun...tapi Insyaallah tetap bisa kita kendalikan," ujar Diana saat EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Kamis (3/9).

Mengatasi berkurangnya debit air di bendungan, Diana menyebut Kementerian PU bakal melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Mungkin kelak kita juga masalah El Nino kita dengan OMC dan sebagainya untuk mengatur," kata Diana.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti saat berbincang berbareng media di instansi Kementerian PU, Rabu (29/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Diana memaparkan, waduk dapat mendukung upaya transisi energi. Saat ini, potensi PLTA nan dapat dikembangkan dari waduk mencapai sekitar 751,6 megawatt (MW). Setidaknya ada 5 PLTA waduk nan bakal diprioritaskan ialah Saguling, Cirata, Jatiluhur, Gajah Mungkur, dan Jatigede.

Sementara potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung nan dapat dibangun di waduk juga sangat besar, sekitar 10.854,15 MW. Beberapa waduk nan dapat dimanfaatkan ialah Bendungan Bajulmati dan Jatibarang.

"Ini potensi untuk menunjukkan bahwa waduk ini mempunyai peran nan strategis untuk mendukung peningkatan bauran daya terbarukan, sekaligus juga memperkuat ketahanan daya Indonesia," jelas Diana.

Sementara itu Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, membenarkan El Nino mempengaruhi operasional PLTA.

"Pastinya ada pengaruh, tapi jika sudah pembangkitan itu wilayah dirjen listrik. Kalau kami melihatnya ya kita sorong terus PLTA-nya. Dan PLTA kan kebanyakan peaker, jadi dipakai pada saat dibutuhkan dan itu range-nya besar," tuturnya.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (17/7). Widya/kumparan Foto: Widya Islamiati/kumparan

Dengan sifat PLTA nan kebanyakan peaker namalain dirancang unik untuk menyuplai lonjakan kebutuhan listrik pada beban puncak, maka pengurangan debit air di sungai maupun bendungan, kata Eniya, tidak terlalu berdampak.

"Misalnya dia bisa menghasilkan 110 MW kayak di Jatigede. Nah di situ, peaker-nya hanya sedikit. Jadi jikalau agak surut, itu belum mengganggu delivery," jelas Eniya.

Kendati demikian, Eniya menegaskan kejadian El Nino nan berkepanjangan tentu bakal mengganggu pasokan daya bersih secara masif. Sehingga antisipasinya dengan mengandalkan sumber daya lain, misalnya tenaga surya alias panas bumi.

"Tetapi memang El-Nino nan berkepanjangan kelak pasti bakal mempengaruhi. Maka sebetulnya di rancangan EBT nan sekarang direvisi juga memperhatikan masalah itu. Semoga sih El Nino gak panjang-panjang banget ya," tandasnya

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan