Ilustrasi IHSG. MSCI mewacanakan bakal menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market ke standalone market, akibat ini menurut Ekonom UGM perlu diwaspadai(Antara Foto)
EKONOM Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi menyampaikan, perubahan status pasar saham dari emerging market ke standalone market oleh MSCI belum terjadi, tetapi risikonya sudah perlu ditanggapi serius. Ia juga mengatakan keputusan MSCI atas perubahan status pasar saham Indonesia tidak otomatis menjadi keputusan penyedia indeks lainnya.
Usulan perubahan pengelompokkan berangkaian dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan kelaziman perdagangan. MSCI menyoroti dugaan coordinated trading alias perdagangan terkoordinasi nan dapat menciptakan kesan suatu saham ramai diperdagangkan, serta kepemilikan nan terlihat tersebar tetapi sebenarnya berada dalam satu kendali.
"Perubahan pengelompokkan berpotensi memengaruhi arus investasi asing lantaran biaya pasif nan mengikuti indeks MSCI perlu menyesuaikan portofolionya andaikan saham Indonesia dikeluarkan dari indeks terkait," terang dia di Yogyakarta, Rabu (21/10).
Ia menjelaskan sebagian biaya aktif juga dapat mengurangi kepemilikan sesuai mandat investasinya, meskipun penanammodal dengan kebijakan lebih elastis tetap dapat berinvestasi di Indonesia. Per akhir September 2026, kata dia, ada sembilan saham personil MSCI Indonesia ialah BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, ASII, UNTR, BRPT, dan BRMS.
Empat saham perbankan, ialah BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, mempunyai berat campuran sekitar 71,7 persen.
“Jika Indonesia dikeluarkan dari indeks terkait, biaya pasif perlu menyesuaikan portofolionya. Namun, biaya aktif dengan patokan investasi nan lebih elastis tetap dapat membeli saham Indonesia andaikan nilai dan kualitas perusahaannya dianggap menarik,” ungkap dia.
Nilai Tukar Rupiah
Ia menyebut, akibat gejolak pasar terhadap saham berpotensi merambat ke nilai tukar rupiah dan perekonomian. Tekanan terhadap rupiah dapat meningkat andaikan hasil penjualan saham dikonversi menjadi kurs asing dan dibawa keluar negeri, sedangkan melemahnya kepercayaan penanammodal berpotensi meningkatkan biaya pendanaan perusahaan serta memengaruhi ekspansi usaha.
Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor dan pembayaran utang kurs asing. Namun, penurunan IHSG dalam satu hari belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia mengalami krisis ekonomi.
“Gejolak ini perlu ditangani serius. Namun, penurunan saham sehari belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi sedang mengalami krisis seperti masa lalu. Kondisi perbankan, kredit, dan aktivitas upaya tetap kudu diperiksa,” tutupnya. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·