Ekonom Nilai BI-Rate Ditahan 5,75% Masih Rasional 

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ekonom Nilai BI-Rate Ditahan 5,75% Masih Rasional  Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026).(MI/Ihfa Firdausya)

KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75% tetap logis untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Inflasi September sebesar 3,28% tetap dalam sasaran, sementara kenaikan Deposit Facility menjadi 5% memperkuat support suku kembang pasar uang," kata Rizal kepada Media Indonesia, Rabu (21/10).

Di sisi lain, akibat arus modal keluar tetap perlu diwaspadai. Rizal mengatakan penjualan asing di saham bersambung tetapi aliran masuk SBN dan SRBI membikin investasi portofolio sejak awal triwulan IV hingga 19 Oktober tetap mencatat surplus bersih US$660 juta.

"Kondisi ini memberi ruang bagi BI mempertahankan kembang sembari memperkuat stabilisasi valas," jelasnya.

Namun, kata Rizal, jika depresiasi semakin persisten, arus keluar meluas, dan ekspektasi inflasi meningkat, kenaikan kembang perlu dipertimbangkan.

"Pemerintah juga kudu memperkuat kredibilitas fiskal dan tata kelola pasar lantaran kepercayaan penanammodal menentukan efektivitas kebijakan BI," pungkasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dan suku kembang lending facility sebesar 6,50%. Sementara suku kembang deposit facility dinaikkan menjadi sebesar 5,00%. Hal itu diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Oktober 2026.

Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) lindung nilai kepada Bank Indonesia. Tujuannya guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar duit dan pasar valas (PUVA).

"Kebijakan moneter ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal nan tetap kuat dan upaya menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027," ungkap Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam konvensi pers di Jakarta, Rabu (21/10). (Ifa)
Ekonom: BI-Rate Ditahan 5,75% Masih Rasional untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75% tetap rasional. Hal itu untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus membatasi tambahan beban pembiayaan ekonomi.

"Inflasi September sebesar 3,28% tetap dalam sasaran, sementara kenaikan Deposit Facility menjadi 5% memperkuat support suku kembang pasar uang," kata Rizal kepada Media Indonesia, Rabu (21/10).

Di sisi lain, akibat arus modal keluar tetap perlu diwaspadai. Rizal mengatakan penjualan asing di saham bersambung tetapi aliran masuk SBN dan SRBI membikin investasi portofolio sejak awal triwulan IV hingga 19 Oktober tetap mencatat surplus bersih US$660 juta.

"Kondisi ini memberi ruang bagi BI mempertahankan kembang sembari memperkuat stabilisasi valas," jelasnya.

Namun, kata Rizal, jika depresiasi semakin persisten, arus keluar meluas, dan ekspektasi inflasi meningkat, kenaikan kembang perlu dipertimbangkan.

"Pemerintah juga kudu memperkuat kredibilitas fiskal dan tata kelola pasar lantaran kepercayaan penanammodal menentukan efektivitas kebijakan BI," pungkasnya.

Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dan suku kembang lending facility sebesar 6,50%. Sementara suku kembang deposit facility dinaikkan menjadi sebesar 5,00%. Hal itu diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Oktober 2026.

Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) lindung nilai kepada Bank Indonesia. Tujuannya guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar duit dan pasar valas (PUVA). (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑