Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menilai kejadian lulusan perguruan tinggi nan bekerja tidak sesuai dengan bidang kuliahnya perlu dipandang secara proporsional.
Menurutnya, selain dipengaruhi perubahan kebutuhan bumi kerja nan semakin fleksibel, kondisi tersebut juga mencerminkan tetap adanya tantangan dalam ekosistem industri nasional.
Lalu mengatakan ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan tidak selalu menjadi parameter kegagalan pendidikan tinggi. Sebab, perkembangan bumi kerja saat ini membikin banyak perusahaan memerlukan kompetensi nan dapat diterapkan lintas bagian ilmu.
“Kami melihat, kejadian lulusan nan bekerja tidak sesuai dengan jurusannya sebagai sesuatu nan perlu disikapi secara proporsional,” kata Lalu saat dikonfirmasi, Rabu (3/6).
Menurut dia, perubahan karakter bumi kerja membikin banyak lulusan akhirnya berkarier di sektor nan berbeda dengan bagian studi nan ditempuh selama kuliah.
“Di satu sisi, bumi kerja saat ini semakin elastis sehingga banyak lulusan beranjak ke sektor nan berbeda lantaran kompetensi nan dibutuhkan berkarakter lintas disiplin. Oleh lantaran itu, kesuksesan lulusan tidak semata-mata diukur dari kesesuaian antara bidang dan pekerjaannya,” ujarnya.
Meski demikian, Lalu menilai kejadian tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari tetap terbatasnya daya serap lapangan kerja pada sejumlah sektor.
Ia menyoroti beberapa bagian studi seperti pertanian, matematika dan pengetahuan pengetahuan alam (MIPA), hingga astronomi nan tetap menghadapi keterbatasan kesempatan kerja sesuai dengan kompetensi lulusan.
“Namun, kami juga memandang adanya tantangan pada ekosistem industri nasional. Untuk beberapa bagian seperti pertanian, MIPA, dan astronomi, daya serap lapangan kerja nan sesuai dengan kompetensi lulusan memang tetap terbatas,” katanya.
Menurut Lalu, kondisi tersebut menunjukkan pengembangan pendidikan tinggi tidak bisa melangkah sendiri tanpa support sektor industri nan bisa menyerap tenaga kerja terampil sesuai bagian keahliannya.
“Ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan tinggi perlu diiringi dengan penguatan industri, riset, dan penemuan agar kebutuhan tenaga mahir di bidang-bidang tersebut semakin meningkat,” ujarnya.
“Karena itu, kami mendorong penguatan keterikatan antara perguruan tinggi, bumi usaha, dan bumi industri, sehingga lulusan mempunyai kesempatan kerja nan lebih luas sekaligus kesempatan untuk mengembangkan keahliannya sesuai bagian studi nan ditempuh,” sambung dia.
Sebelumnya, ketidaksesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan (horizontal mismatch) menjadi sebuah kejadian di Indonesia nan tidak bisa dipungkiri. Sebab, kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan tertentu kerap kali jumlahnya tak sebanding.
kumparan menemukan deretan prodi di Indonesia nan lulusannya paling selaras dan tidak selaras dengan pekerjaan saat ini.
Pada jenjang sarjana di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Astronomi menjadi prodi nan lulusannya paling tidak selaras dengan pekerjaan. Persentasenya mencapai 75,64 persen. Lalu, disusul dengan prodi Sains Atmosfer & Keplanetan nan mengalami ketidakselarasan pekerjaan mencapai 74,03 persen.
Prodi Teknologi & Manajemen Perikanan Tangkap juga mengalami ketidakselarasan dengan pekerjaan nan mencapai nomor 62,84 persen. Metereologi berada di urutan ke-4 dengan ketidakselarasan nan cukup tinggi sebesar 62,22 persen.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·