Jakarta -
Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) tetap terus menguat terhadap Rupiah. Kini, Rupiah tetap ditekan di kisaran Rp 17.500-an, berasas info Bloomberg pagi ini Dolar AS menekan Rupiah di level nan cukup tinggi Rp 17.575.
Sejauh ini pelemahan Rupiah telah terjadi jauh dari sasaran nilai tukar nan ditetapkan pada dugaan makro APBN. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS paling tinggi ditetapkan di APBN 2026 sebesar Rp 16.500, namun sekarang sudah mencapai Rp 17.500 lebih.
Menurut Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad, Rupiah bakal sangat susah turun di bawah level Rp 17.000 saat ini. Dia menilai nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah di kisaran Rp 17.000-an telah menjadi level keseimbangan baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memandang memang jika di bawah Rp 17.000 rasanya sudah susah ya. Ini ada nomor kesimbangan baru begitu ya. Ada nomor kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid kepada detikcom dalam sesi detikSore, ditulis Jumat (15/5/2026).
Dia mengatakan sejauh ini pengalaman Bank Indonesia melakukan operasi moneter alias upaya-upaya stabilisasi rupiah, mengurangi nomor Rp 500 pada nilai tukar memerlukan waktu lebih panjang dan relatif lebih sulit. Menurutnya, penguatan Rupiah setidaknya bakal berada di level Rp 17.000-17.200 saja.
"Tapi saya percaya ya tetap bisa mendekati nomor Rp17.000 itu memungkinkan apakah Rp17.100 alias Rp17.200 begitu. Tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah nan dilakukan Bank Sentral itu kudu betul-betul efektif," papar Tauhid.
Tauhid menilai semestinya memang pemerintah mulai mengubah dugaan makro dalam APBN. Sebab target-target nan ditetapkan sudah berada jauh dari kenyataan, misalnya saja nilai tukar nan mencapai Rp 17.500 dari sasaran Rp 16.500.
Bila mengubah APBN tak mau dilakukan, Tauhid meminta setidaknya ada penyampaian kerangka fiskal nan jelas dan transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor.
"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku upaya dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih percaya ya," beber Tauhid.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga menyatakan saat ini nampaknya susah untuk Rupiah bisa menguat dan mencapai sasaran pada APBN. Lukman memandang aspek eksternal ialah gonjang-ganjing situasi geopolitik bumi menjadi argumen utama Rupiah melemah.
Salah satunya adalah kenaikan nilai minyak bumi nan terjadi imbas gangguan pasok setelah AS dan Irsn berperang.
"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan Rupiah terhadap Dolar AS) andaikan perang Iran-AS berhujung alias selat Hormuz dibuka dan nilai minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman kepada detikcom.
Di dalam negeri, Lukman memaparkan beberapa sentimen negatif membikin penanammodal ragu dan mengeluarkan modalnya le luar negeri mencari tempat nan aman. Misalnya saja sentimen pengelolaan APBN nan terlalu ekstrem hingga membikin defisit mendekati level 3%.
Kemudian polemik nan terjadi di pasar modal juga mengganggu kepercayaan penanammodal dan membawa kabur modalnya. Hal ini memicu pelemahan nilai tukar Rupiah juga.
"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu meningkatkan suku bunga," tegas Lukman.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan dalam jangka pendek, Bank Indonesia kudu tetap aktif menjaga pasar valas agar pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan. Namun untuk menguatkan Rupiah, apalagi untuk kembali seperti sasaran di APBN perlu perihal nan jauh lebih besar.
Hal itu adalah menjaga kepercayaan pasar. Para personil Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) kudu satu bunyi dan melakukan kebijakan dengan arah nan sama dan komunikasi nan baik.
"Tapi nan paling krusial sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor mau memandang pemerintah, BI, dan otoritas finansial bicara dalam arah nan sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron alias kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya sigap membesar," tegas Rendy kepada detikcom.
Dia juga mengatakan struktur ekonomi Indonesia tetap sangat berjuntai pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. Jadi setiap ada gejolak global, rupiah langsung ikut terpukul. Indonesia kudu perlahan mengubah struktur ekonominya dengan memperkuat industri dalam negeri untuk memproduksi komoditas sehari-hari dan juga produk ekspor.
"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor nan selama ini membikin impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Rendy.
Selain itu, kepastian kebijakan juga krusial sekali untuk dihadirkan pemerintah. Investor sebenarnya bisa menerima patokan nan ketat, asal jelas dan konsisten. nan paling membikin mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan nan terlalu mendadak dan susah diprediksi.
(hal/eds)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·