ilustrasi(Antara)
Dokter Icha Pakaenoni ditemukan meninggal bumi di kediamannya di Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (26/6) petang. Sebelum meninggal, master nan bekerja di RS Leona, Kefamenanu, itu diketahui sempat melaporkan dugaan intimidasi nan dialaminya saat menangani pasien di instalasi darurat gawat (IGD).
Perwakilan keluarga, Viktor Manbait, mengatakan korban ditemukan sekitar pukul 18.30 Wita di dalam bilik rumahnya dengan tali nan terikat pada leher dan bingkai pintu.
"Almarhumah ditemukan telah meninggal bumi di dalam kamarnya dalam keadaan tergantung dengan tali pada leher nan terikat pada bingkai pintu," kata Viktor kepada Media Indonesia, Sabtu (27/6).
Ia menjelaskan, berasas hasil pemeriksaan luar terhadap jenazah, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan nan tidak wajar. Atas permintaan keluarga, proses autopsi tidak dilakukan dan jenazah kemudian disemayamkan di Rumah Duka Baumata untuk didoakan sebelum dimakamkan.
Sebelumnya, master Icha menjadi sorotan setelah mengaku mengalami dugaan intimidasi saat bekerja menangani seorang pasien anak nan digigit ular di IGD RS Leona pada Sabtu (13/6). Menurut keluarga, saat itu tiga orang nan mengaku sebagai personil DPRD meminta agar pasien segera diberikan vaksin.
Dokter Icha kemudian berkonsultasi dengan master ahli dan menyampaikan bahwa berasas pertimbangan medis pasien belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu. Selain itu, rumah sakit disebut tidak mempunyai stok vaksin nan dimaksud.
Viktor mengatakan penjelasan tersebut tidak diterima oleh family pasien. Dalam situasi itu, seorang laki-laki nan mengaku personil DPRD disebut masuk ke ruang IGD, berbincang dengan nada tinggi sembari menunjuk ke arah master Icha. Menurut keluarga, kondisi tersebut membikin master Icha merasa tertekan hingga menangis.
Peristiwa tersebut akhirnya diredakan oleh Direktur RS Leona sehingga pasien tetap menjalani observasi. Pasien itu sekarang telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan.
Keluarga menyebut master Icha mengalami trauma setelah kejadian tersebut. Saat kembali bekerja keesokan harinya, dia mengaku kembali memandang dua orang nan terlibat dalam peristiwa itu berada di lingkungan rumah sakit sehingga memilih meninggalkan tempat kerjanya.
Beberapa hari kemudian, master Icha berbareng keluarganya melaporkan dugaan intimidasi tersebut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timor Tengah Utara, serta Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara.
Dalam laporan nan disampaikan ke Dinas Kesehatan, master Icha mencantumkan nama tiga personil DPRD nan disebut terlibat dalam kejadian tersebut. Salah satu di antaranya disebut mempersoalkan tindakan medis nan diberikan kepada pasien, sementara personil lainnya disebut meminta agar wartawan dipanggil ke rumah sakit.
Di sisi lain, Ketua DPRD Timor Tengah Utara, Kristoforus Efi, mengatakan para personil DPRD nan namanya disebut telah membantah melakukan intimidasi. Menurutnya, nan terjadi adalah perdebatan dengan nada bunyi keras mengenai prosedur penanganan pasien. Ia juga menyatakan personil DPRD nan berkepentingan telah menyampaikan permohonan maaf kepada Direktur dan manajemen RS Leona serta membuka ruang mediasi dengan family master Icha.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari abdi negara penegak norma nan menyatakan adanya hubungan antara dugaan intimidasi tersebut dengan kematian master Icha. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·