Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mendorong agar Indonesia mempunyai national mineral stockpile. Tujuannya agar ada pengaturan kapan suatu mineral dan batu bara disimpan dan kapan kudu dikeluarkan.
Maroef juga menyampaikan dorongan tersebut kepada Wamen Investasi, Todotua Pasaribu.
“Bagaimana jika kita mewujudkan Nasional Mineral Stockpile? Supaya kita bisa mengatur kapan peralatan kita kita lepas, kapan peralatan kita kita simpul. Mungkin kelak Pak Wamen (Todotua) bisa mencarikan lahan dimana kita bisa mempunyai National Mineral Stockpile dan juga batubara,” kata Maroef dalam MINDialoge di Energy Building, Jakarta pada Rabu (12/8).
Ia juga menjelaskan, dorongan tersebut dia dasari dengan mencontoh Malaysia nan juga mempunyai stockpile namun untuk komoditas CPO. Dengan begitu, nilai CPO dunia bisa mereka kendalikan.
“Seperti gimana Malaysia mengendalikan CPO di bumi internasional lantaran dia punya stockpile untuk kapan keluar, kapan simpan,” ujarnya.
Keberadaan National Mineral Stockpile, menurut Maroef, juga menjadi perihal krusial utamanya dalam rantai pasok. jika nantinya perbaikan dari hulu dan midstream mineral sudah dilakukan, maka kan ada peningkatan terhadap hasil alias pasokan bijih.
Peningkatan pasokan tersebut bisa diatasi dengan penyerapan pasokkan nan maksimal jika Indonesia mempunyai National Mineral Stockpile.
“Peningkatan pasokan ini secara otomatis bakal menunjang produktivitas hilirisasi komoditas tambang sehingga dapat diserap oleh pasar secara maksimal. Nah, ini tadi mungkin jika kita punya National Stockpile,” kata Maroef.
Tantangan Energi Terbarukan
Dalam aktivitas tersebut, turut datang Wamen Investasi, Todotua Pasaribu nan juga menyampaikan rumor energi. Pada kesempatan itu, dia menyampaikan soal tantangan daya terbarukan nan menurutnya tetap terhalang oleh mahalnya biaya meski potensinya di Indonesia cukup besar.
“Misalnya kita mau masuk kepada daya terbarukan. Tantangannya itu adalah structure cost, tantangannya itu nilai jual, (padahal) potensi datang dari solar panel, water, geothermal, wind, 3.687 gigawatt,” ujarnya.
Di samping itu, tantangan tersebut menurutnya memang didasari dari keahlian PLN dalam membeli listrik hasil daya terbarukan. Menurutnya, sejauh ini belum ada hitung-hitungan nilai nan bisa tercapai.
“Persoalan saat ini, PLN punya keahlian belinya itu hanya sekitar 6-7 sen, jika kita mau masuk dalam industri ini, selalu harganya gak pernah ketemu,” kata Todotua.
Di samping itu, dia menyinggung khususnya untuk solar panel. Menurutnya, saat ini Indonesia baru bisa merakit dan mengimpor komponen materialnya. Padahal, bahan baku solar panel di Indonesia. Hal itu juga menambah beban biaya.
“Padahal solar panel itu, 87 persen, komponennya semua kita punya, silikanya kita ada, timahnya kita ada, bauksitnya kita ada, tembaganya kita ada. Tapi lantaran kita tetap hanya perakitan, material komponennya kita tetap impor, kita gak bisa mengendalikan cost,” ujarnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·