Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena penutupan dan akuisisi diler mobil merek Jepang mulai terlihat di industri otomotif nasional. Perubahan ini memunculkan kekhawatiran bakal pergeseran besar dalam struktur pasar otomotif Indonesia.
Selama puluhan tahun, merek Jepang menjadi tulang punggung industri otomotif nasional, baik dari sisi penjualan, produksi, hingga kontribusi terhadap ekspor dan pajak. Namun kini, posisi tersebut mulai menghadapi tekanan baru.
Peneliti Senior Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi menilai kondisi ini bukan sekadar dinamika upaya biasa, melainkan sinyal nan perlu dicermati serius oleh pemerintah. Ia menilai Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara lain nan lebih dulu menghadapi kondisi serupa.
"Gimana dengan brand-brand Jepang nan mulai beranjak dealernya tutup dan diakuisisi dealer nan lain. Jadi di sisi ini itu mungkin lesson learned dari Malaysia, jadi krusial ya bahwa kudu ada keberpihakan melindungi existing industry nan jelas-jelas sudah berkontribusi selama ini," kata Agus kepada CNBC Indonesia, Kamis (16/4/2026).
Adapun Malaysia melalui Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) mewajibkan investasi manufaktur asing tertentu untuk melakukan ekspor dengan porsi 80% dan 20% lainnya untuk lokal, tujuannya melindungi industri otomotif lokal.
Masuknya investasi baru dan pemain baru memang krusial untuk pertumbuhan industri. Ia menyoroti adanya kecenderungan pemerintah terlalu konsentrasi pada investasi baru tanpa memperhatikan keberlanjutan industri nan sudah ada.
"Jadi kita jangan jadi lupa. Jadi nan ini seolah-olah enggak ada artinya, nan selama ini padahal itulah nan menopang kita selama ini," kata Agus.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa industri otomotif mempunyai pengaruh berantai nan besar terhadap sektor lain, sehingga gangguan pada sektor ini bisa berakibat luas.
Karena itu, perlindungan terhadap industri eksisting dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi.
"Jadi nan jelas-jelas sudah berkontribusi tadi seperti ekspor segala macam, pajak selama ini ya pilihannya sebenarnya sederhana, ya kudu mulai dipikirkan," ujarnya.
Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir ada sejumlah brand Jepang nan menutup Dilernya, terbaru adalah Honda Pondok Pinang.
Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy menyatakan bahwa perubahan jaringan dealer merupakan perihal nan wajar dalam industri otomotif nan terus bergerak dinamis.
"Kami memahami bahwa penyesuaian jaringan dealer merupakan bagian dari dinamika industri otomotif nan terus berubah. Bagi Honda, nan terpenting adalah memastikan setiap konsumen tetap mendapatkan jasa nan mudah diakses, cepat, dan dapat diandalkan," ujar Billy kepada CNBC Indonesia.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·