Dari Peneleh ke Istana: Jejak Gemblengan Tjokroaminoto pada Sukarno

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Bangunan berkelir hijau di Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya, sekarang berdiri sebagai ruang penanda sejarah. Namun sekitar satu abad silam, seorang remaja berjulukan Sukarno ditempa oleh HOS Tjokroaminoto.

Bagi Sukarno muda, Tjokroaminoto bukan sekadar pengajar nan mewariskan pengetahuan. Ia adalah teladan hidup.

"Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa nan dia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh nan mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang nan mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya," kata Sukarno dalam autobiografinya nan disusun oleh Cindy Adams 'Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat'.

Sukarno muda tahu dia sedang ditempa. Tjokroaminoto memberinya akses kepada buku-buku nan paling berbobot nan dimilikinya. Bukan bermain, seluruh waktunya digunakan untuk membaca, larut dalam perenungan dan perbincangan jiwa dengan gagasan-gagasan nan ditemuinya.

"Secara mental saya berbincang dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan berkawan dengan dia lantaran dia bercerita kepadaku tentang Declaration of Independence nan ditulisnya pada tahun 1776. Aku memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln sehingga saya dapat mempersoalkan perihal ini dengan dia," kata Sukarno.

"Di dalam bumi pemikiranku saya pun berbincang dengan Gladstone dari Britania, ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb nan mendirikan Gerakan Buruh Inggris. Aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour, dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria," lanjutnya.

"Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin dari Rusia, dan saya mengobrol dengan Jean-Jacques Rousseau, Aristide Briand, dan Jean Jaurès, mahir pidato terbesar dalam sejarah Prancis," kata Sukarno.

Pelajaran tentang pengadilan rakyat di Yunani antik menjelma lebih dari sekadar materi sekolah bagi Sukarno muda nan saat itu tengah menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS).

Di kepalanya, kisah itu berubah menjadi panggung besar nan dipenuhi para pemikir, negarawan, dan orator nan beradu pendapat tentang keadilan dan kebebasan.

"Aku membayangkan pemikir-pemikir nan sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan semboyan-semboyan seperti 'Persetan dengan Penindasan' dan 'Hidup Kemerdekaan'. Hatiku terbakar menyala-nyala," kata Sukarno.

Sukarno muda kerap menjadikan bilik sempitnya sebagai mimbar pidato. Berdiri di atas meja nan bergoyang, dia melontarkan kata demi kata dengan penuh penghayatan, seolah sedang berbincang di hadapan ribuan orang.

“Hai, No, kau gila? Ada apa? Hei, apa kau sakit?”

Kemudian tukang-tukang sorak itu kembali pada jawabannya sendiri,

“Ah, tidak ada apa-apa. Cuma si No mau menyelamatkan bumi lagi.”

Satu demi satu pintu-pintu menutup lagi dan membiarkan saya sendiri dalam kegelapan.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita