Dari Kampung di Tasikmalaya Menuju Dunia, Payung Geulis Bangkit Menembus Pasar Global

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Dari Kampung di Tasikmalaya Menuju Dunia, Payung Geulis Bangkit Menembus Pasar Global Menggandeng pemengaruh, Pemerintah Kota Tasikmalaya berupaya mengembalikan kejayaan payung geulis.(MI/Kristiadi)

UPAYA menghidupkan kembali kejayaan payung geulis unik Tasikmalaya terus dilakukan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Kali ini, dorongan datang dari sejumlah pemengaruh dan Duta Dekranasda Jawa Barat nan diharapkan bisa memperluas promosi produk kerajinan tradisional tersebut hingga menembus pasar global.

Payung geulis bukan sekadar kerajinan tangan biasa bagi masyarakat Tasikmalaya. Produk nan telah datang sejak era 1920-an itu menjadi simbol budaya sekaligus identitas wilayah nan pernah berhasil hingga pasar Eropa.

Kerajinan payung geulis pertama kali diproduksi sekitar tahun 1923-1930 oleh tokoh perajin berjulukan Muhyi A Sahrod berbareng istrinya, Iyah, di Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Dalam perkembangannya, payung geulis sempat mengalami masa keemasan pada 1950 hingga 1995 ketika nyaris setiap rumah di area tersebut memproduksi kerajinan serupa.

Wakil Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya, Rani Permayani, mengatakan pemerintah wilayah sekarang berupaya mengembalikan pamor payung geulis agar kembali dikenal luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional.

“Alhamdulillah, kami mendapat kunjungan para pemengaruh dan Duta Dekranasda Jawa Barat. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu membangkitkan kembali payung geulis menuju pasar dunia dan dikenal mendunia,” ujar Rani, Senin (11/5).

Sejumlah pemengaruh nan datang di antaranya Salzha Aulia Putri, Alya Rohali, Fahril Nur, Hafid Kurniawan, hingga Sandy Pratama. Kehadiran mereka dinilai krusial untuk memperluas eksposur produk lokal melalui media sosial dan jejaring digital.

SEJARAH PAYUNG GEULIS
Menurut Rani, payung geulis Tasikmalaya sejatinya mempunyai sejarah panjang dalam industri kerajinan Indonesia. Pada periode 1968 hingga 1995, produk tersebut apalagi sempat dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa.

Awalnya, payung geulis digunakan sebagai pelindung panas dan hujan. Namun seiring perkembangan zaman, kegunaan payung berubah menjadi produk seni dan budaya nan mempunyai nilai estetika tinggi. Kini payung geulis lebih banyak digunakan sebagai dekorasi, cendera mata, properti seni, hingga ikon budaya Tasikmalaya.

“Payung geulis sudah diakui sebagai warisan budaya tak barang sejak 2022. Ini menjadi modal krusial untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya tarik produk di pasar internasional,” katanya.

Meski mempunyai sejarah panjang, perjalanan industri payung geulis tidak selalu melangkah mulus. Krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19 membikin upaya para perajin mengalami penurunan drastis. Banyak perajin berakhir produksi lantaran pasar melemah dan permintaan menurun.

Akibatnya, jumlah pengrajin aktif terus berkurang dibandingkan masa kejayaannya beberapa dasawarsa lalu. Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi pemerintah wilayah untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.

Dalam upaya revitalisasi, para pemengaruh nan datang ke Tasikmalaya juga diperkenalkan langsung pada proses pembuatan payung geulis. Mereka mendapat pendampingan dari pelukis senior Mak Hasanah nan selama ini mempertahankan teknik lukis tradisional pada permukaan payung.

Rani berambisi promosi digital melalui media sosial bisa membuka pasar baru bagi produk payung geulis, terutama di kalangan generasi muda dan pasar luar negeri nan sekarang lebih tertarik pada produk kerajinan autentik dan berbobot budaya.

IDENTITAS UMKM

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya, Sofian Zenal Mutaqien, mengatakan payung geulis menjadi bagian krusial dari identitas UMKM Kota Tasikmalaya.

Menurut Sofian, pemerintah wilayah terus mendorong pengembangan beragam produk lokal mulai dari bordir, batik, kelom geulis, hingga kerajinan payung tradisional agar bisa bersaing di pasar nan lebih luas.

“Kota Tasikmalaya mempunyai kekuatan pada sektor UMKM dengan karakter unik budaya nan kuat. Kehadiran para pemengaruh ini diharapkan bisa membantu membangun pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus mengangkat kembali payung geulis ke pasar global,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan payung geulis menembus pasar Eropa pada masa lampau menjadi bukti bahwa produk kerajinan lokal Tasikmalaya mempunyai kualitas dan nilai seni nan bisa diterima pasar internasional.

Kini, di tengah perkembangan ekonomi digital dan promosi media sosial, pemerintah berambisi kebangkitan payung geulis tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi baru bagi generasi muda Tasikmalaya. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia