Dari Human Capital ke Human Capability: Persaingan Talenta di Era AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi: Perusahaan pemenang, nan punya SDM paling sigap mengembangkan talentanya. Foto: Unsplash.

"Pak, jika pekerjaan saya kelak digantikan AI bagaimana?"

Sang manajer tersenyum. "Saya justru lebih cemas jika kita tidak belajar menggunakan AI. nan digantikan bukan manusia oleh mesin, tetapi manusia nan berakhir belajar oleh manusia nan terus mengembangkan kemampuannya."

Percakapan seperti itu semakin sering terdengar di beragam perusahaan. Beberapa tahun lalu, perusahaan berkompetisi mencari talenta terbaik dengan menawarkan penghasilan tinggi dan akomodasi menarik. Kini, tantangannya berubah. Talenta terbaik justru memilih perusahaan nan bisa membikin mereka terus berkembang. Persaingan upaya tidak lagi hanya soal modal, teknologi, alias pangsa pasar, melainkan keahlian organisasi membangun manusia nan adaptif dan terus belajar. Di sinilah muncul pergeseran paradigma dari human capital menuju human capability.

Human Capital Tidak Lagi Cukup

Konsep human capital nan dipopulerkan oleh ahli ekonomi peraih Nobel, Gary Becker, memandang pendidikan, keterampilan, dan pengalaman sebagai corak investasi nan meningkatkan produktivitas perseorangan maupun organisasi. Teori ini tetap relevan, tetapi perkembangan teknologi membikin definisinya perlu diperluas.

Saat ini, perusahaan tidak cukup hanya mempunyai tenaga kerja nan kompeten. Mereka memerlukan perseorangan nan bisa belajar cepat, beradaptasi dengan perubahan, bekerja lintas disiplin, dan memanfaatkan teknologi baru.

Laporan World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 39 persen keahlian inti tenaga kerja bakal mengalami perubahan dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, keahlian nan paling dibutuhkan justru bukan sekadar keahlian teknis, tetapi analytical thinking, resilience, flexibility, leadership, curiosity, dan lifelong learning.

Profesor Amy Edmondson dari Harvard Business School melalui konsep psychological safety menjelaskan bahwa organisasi unggul adalah organisasi nan memungkinkan karyawannya berani bertanya, bereksperimen, mengakui kesalahan, dan belajar dari kegagalan. Lingkungan kerja nan terlalu birokratis justru menghalang penemuan dan adaptasi.

Perusahaan nan tetap menganggap training sebagai biaya, bukan investasi strategis, berisiko kehilangan daya saing.

Pelajaran dari Perusahaan nan Sukses dan Gagal

Banyak contoh menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan sangat ditentukan oleh keahlian mengembangkan manusia.

Microsoft menjadi salah satu contoh sukses. Ketika Satya Nadella menjadi CEO pada 2014, dia tidak hanya mengubah strategi bisnis, tetapi juga budaya organisasi. Nadella memperkenalkan konsep "learn-it-all" menggantikan "know-it-all". Budaya belajar, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap teknologi baru, termasuk AI, menjadi bagian dari DNA perusahaan.

Hasilnya cukup nyata. Microsoft sukses melakukan transformasi besar, menjadi salah satu pemimpin dalam komputasi awan dan kepintaran buatan, sekaligus meningkatkan nilai perusahaan hingga beberapa triliun dolar AS.

Contoh lain adalah Netflix. Budaya "Freedom and Responsibility" memberikan ruang bagi tenaga kerja untuk mengambil keputusan, berinovasi, dan terus meningkatkan kemampuan. Investasi pada talenta dan budaya pembelajaran menjadi aspek krusial dalam mempertahankan daya saing.

Sebaliknya, Kodak sering dijadikan contoh kegagalan adaptasi. Ironisnya, perusahaan ini justru menemukan teknologi kamera digital pada tahun 1975. Namun, kepemimpinan saat itu cemas penemuan tersebut bakal mengganggu upaya movie fotografi nan sudah mapan. Alih-alih mengembangkan keahlian baru organisasi, Kodak mempertahankan model upaya lama hingga akhirnya kehilangan relevansi.

Kasus serupa terjadi pada Nokia. Meski mempunyai sumber daya besar dan pangsa pasar dominan, organisasi dinilai terlalu lambat beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan budaya penemuan nan berkembang di industri telepon pintar.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa perusahaan tidak runtuh lantaran kekurangan aset, tetapi sering kali lantaran kurang sigap membangun keahlian baru.

Era AI Menuntut Kepemimpinan Baru

Perkembangan AI membawa perubahan besar dalam bumi kerja. Banyak pekerjaan rutin dapat diotomatisasi, tetapi kebutuhan bakal kreativitas, kepemimpinan, empati, dan keahlian mengambil keputusan justru meningkat.

Profesor Dave Ulrich, salah satu tokoh terkemuka dalam bagian manajemen SDM, menjelaskan bahwa kegunaan SDM modern kudu menjadi pembuat nilai bagi organisasi, bukan sekadar pengelola administrasi. Fokusnya adalah membangun kapabilitas organisasi nan bisa memperkuat dalam perubahan.

Dalam konteks ini, pemimpin perusahaan perlu mengubah pendekatan pengelolaan SDM.

Pertama, menggeser orientasi dari kedudukan menuju keterampilan. Karyawan perlu diberi kesempatan mengembangkan beragam kompetensi lintas fungsi.

Kedua, membangun budaya pembelajaran berkelanjutan. Pelatihan tidak cukup dilakukan sekali dalam setahun, tetapi menjadi bagian dari aktivitas kerja sehari-hari.

Ketiga, memanfaatkan AI sebagai perangkat pendukung produktivitas. Karyawan perlu dibekali keahlian menggunakan AI secara etis dan efektif, bukan melihatnya sebagai ancaman.

Keempat, mengembangkan kepemimpinan nan adaptif. Pemimpin tidak hanya mengarahkan pekerjaan, tetapi juga menjadi pembimbing dan mentor bagi timnya.

Data dari beragam survei dunia menunjukkan bahwa perusahaan dengan budaya pembelajaran nan kuat mempunyai tingkat inovasi, produktivitas, dan retensi tenaga kerja nan lebih tinggi dibanding organisasi nan tidak berinvestasi pada pengembangan talenta.

Membangun Human Capability sebagai Strategi Masa Depan

Persaingan talenta di masa depan kemungkinan tidak lagi dimenangkan oleh perusahaan nan menawarkan penghasilan terbesar, tetapi oleh organisasi nan memberikan kesempatan berkembang paling luas.

Strategi pertama adalah menerapkan pendekatan pembelajaran sepanjang hayat. Setiap tenaga kerja perlu mempunyai rencana pengembangan kompetensi nan jelas dan relevan dengan kebutuhan bisnis.

Strategi kedua adalah membangun sistem manajemen talenta berbasis keterampilan. Promosi dan pengembangan pekerjaan sebaiknya tidak hanya berjuntai pada senioritas, tetapi juga pada kemampuan, prestasi, dan potensi belajar.

Strategi ketiga adalah memperkuat kerjasama antara bumi usaha, perguruan tinggi, dan lembaga training untuk mempercepat peningkatan keahlian tenaga kerja.

Strategi keempat adalah mengembangkan budaya organisasi nan menghargai penemuan dan pembelajaran dari kegagalan. Kesalahan nan terukur dapat menjadi sumber pengetahuan baru bagi organisasi.

Bagi Indonesia, transformasi ini mempunyai makna strategis. Bonus demografi hanya bakal menjadi untung andaikan kualitas sumber daya manusia terus meningkat. Jika tidak, bingkisan demografi dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.

Persaingan upaya dunia juga menunjukkan bahwa teknologi memang penting, tetapi teknologi dapat dibeli. Modal dapat dicari. Infrastruktur dapat dibangun. nan paling susah dan memerlukan waktu panjang adalah membangun manusia nan mempunyai keahlian belajar, beradaptasi, dan memimpin perubahan.

Karena itu, perusahaan nan mau memperkuat di era AI perlu memandang tenaga kerja bukan sekadar sebagai human capital nan menghasilkan nilai ekonomi, melainkan sebagai human capability nan bisa menciptakan inovasi, menyelesaikan masalah baru, dan membuka kesempatan masa depan. Organisasi nan sukses membangun keahlian tersebut bukan hanya memenangkan persaingan talenta, tetapi juga memperbesar kesempatan memenangkan persaingan upaya di tengah bumi nan berubah semakin cepat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan